Uniknya Festival Resik Kali Pacitan: Dihadiri SBY dan Ada Puisi di Atas Gethek!
Presiden ke-6 RI SBY turut memeriahkan Festival Resik Kali Pacitan yang digelar seniman dan warga. Acara ini bukan hanya seni, tapi juga ajakan merawat sungai sebagai nadi peradaban.
Seniman Pacitan bersama warga setempat sukses menggelar Festival Resik Kali 2025, sebuah perayaan seni dan aksi peduli lingkungan yang menarik perhatian nasional. Acara yang telah memasuki tahun ketiga ini mendapat kehormatan dengan kehadiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang turut memeriahkan suasana. Festival ini berpusat di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, pada hari Kamis, 25 September, menunjukkan komitmen kuat masyarakat terhadap kelestarian alam dan budaya.
Kegiatan Festival Resik Kali 2025 dirancang untuk mengkolaborasikan budaya dan ekologi secara harmonis, melibatkan berbagai elemen masyarakat. Rangkaian acara dimulai dengan kegiatan kerja bakti membersihkan Sungai Jelok, sebuah inisiatif nyata untuk menjaga kebersihan sumber daya air. Setelah itu, kemeriahan berlanjut dengan kirab gethek dan arak-arakan rakit bambu yang bergerak dari balai desa menuju aliran sungai, menciptakan pemandangan yang unik dan penuh makna.
Puncak acara dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni yang menghadirkan musisi dan perupa berbakat dari Pacitan serta Surakarta. Semua pertunjukan tersebut mengusung tema sentral “Merawat Sungai, Merawat Peradaban”, menekankan pentingnya sungai sebagai urat nadi kehidupan dan kebudayaan. Festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga platform edukasi dan pengingat akan tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan.
Kolaborasi Seni dan Lingkungan di Festival Resik Kali
Festival Resik Kali Pacitan adalah wujud nyata dari kolaborasi antara seni dan kepedulian lingkungan yang telah berjalan selama tiga tahun. Inisiatif ini membuktikan bahwa pelestarian alam dapat diintegrasikan dengan ekspresi budaya, menciptakan dampak yang lebih luas dan mendalam. Kehadiran tokoh nasional seperti SBY memberikan dorongan moral dan perhatian publik yang signifikan terhadap upaya-upaya konservasi lokal.
Rangkaian kegiatan festival ini dirancang untuk melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Kerja bakti membersihkan Sungai Jelok menjadi simbol gotong royong dan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga ekosistem sungai. Sementara itu, kirab gethek dan arak-arakan rakit bambu tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga mengingatkan kembali tradisi lokal yang erat kaitannya dengan sungai.
Pertunjukan seni yang ditampilkan dalam Festival Resik Kali 2025 menjadi medium efektif untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan. Musisi dan perupa dari berbagai daerah bersatu padu untuk menginterpretasikan tema “Merawat Sungai, Merawat Peradaban” melalui karya-karya mereka. Hal ini menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan memobilisasi masyarakat dalam aksi nyata.
Peran Pemimpin dalam Melestarikan Budaya dan Alam
Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, atau yang akrab disapa Mas Aji, turut aktif memeriahkan Festival Resik Kali 2025 dengan cara yang unik dan berkesan. Beliau membacakan sebuah puisi ciptaan SBY di atas gethek, diiringi alunan musik etnik dan tarian tradisi yang memukau. Aksi ini tidak hanya menambah semarak acara, tetapi juga menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap inisiatif masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Aji menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya festival ini bagi warga Pacitan. “Festival ini menegaskan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan budaya. Warga Pacitan menunjukkan komitmen merawat sungai sebagai sumber kehidupan,” kata Mas Aji, menegaskan kembali tujuan mulia di balik penyelenggaraan festival. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Festival Resik Kali bukan sekadar pesta budaya, melainkan sebuah ikrar bersama.
Ikrar tersebut adalah untuk menjaga kelestarian air dan ekosistem sungai yang merupakan nadi peradaban manusia. Kehadiran dan partisipasi aktif pemimpin daerah serta tokoh nasional seperti SBY memberikan legitimasi dan inspirasi bagi masyarakat untuk terus berpartisipasi. Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan warga adalah kunci keberhasilan dalam upaya pelestarian lingkungan dan budaya.
Sumber: AntaraNews