Udara dan air tercemar, warga Purbayasa demo pabrik pengolahan kayu
Warga menuntut supaya udara hingga sumber air mereka tidak tercemar terus-menerus.
Geram karena permintaan mereka tidak kunjung dipenuhi, ribuan warga Desa Purbayasa, Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jawa Tengah, mendatangi pabrik pengolahan kayu lapis milik CV Purbayasa, Minggu (3/1). Mereka meminta pabrik itu bertanggung jawab dalam pengolahan limbah menyebabkan polusi air dan udara.
Aksi itu diikuti dari berbagai kalangan warga. Sayangnya, anak-anak turut dilibatkan dalam unjuk rasa itu. Mereka membawa atribut bendera putih melambangkan duka karena udara, dan air bersih hilang dari lingkungan mereka. Sebab, pabrik sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu itu dianggap mencemari lingkungan sekian lama. Namun, menurut mereka, kondisi itu bertambah parah sejak tiga tahun terakhir.
Koordinator lapangan aksi, Ali Nurohim mengatakan, unjuk rasa itu merupakan bentuk kegeraman mereka terhadap pabrik belum meluluskan permintaan warga supaya mengolah limbah dengan baik.
"Ini aksi damai warga Purbayasa. Dengan adanya polusi pabrik CV Purbayasa, sudah lebih dari tiga tahun mencemari. Kami tidak ingin pabrik tutup, tetapi ingin polusi yang ada di Desa Purbayasa tidak ada lagi," kata Ali, Minggu (3/1).
Ali mengemukakan, selama ini asap keluar dari pabrik kerap membuat aktivitas warga terganggu. Tak hanya itu, debu berterbangan dan limbah cair dibuang ke sungai membuat warga tidak nyaman lagi.
"Kami hanya minta asap tidak keluar, debu tidak keluar, limbah cair ke sungai tidak keluar. Masyarakat ingin udara kembali bersih, air kembali jernih dan dapat digunakan masyarakat lagi," ucap Ali.
Sementara itu, perwakilan CV Purbayasa, Edi Saptono mengatakan, menampung permintaan warga dan secepatnya membenahi pengolahan limbah. "Saya tanggapi positif dan terima kasih kepada warga yang peduli. Secepatnya, dan ini sedang dalam progres untuk berbenah," kata Edi.
Sebelumnya, warga sempat melakukan berbagai upaya buat meminta pertanggungjawaban pabrik pengolahan kayu itu. Mulai dari menemui pihak perusahaan, mediasi dengan berbagai pihak hingga ke kepolisian dan dinas terkait. Namun, tetap tak membuahkan hasil, karena perusahaan dinilai tidak melakukan upaya perbaikan dan mengatasi masalah polusi.
Padahal, menurut Ali, sudah banyak warga menjadi korban polusi dan menderita sakit. Ditambah lagi, lanjutnya, air sungai di sekitar desa juga sudah tidak dapat digunakan karena tercemar limbah.
"Kami ingin ada solusi soal polusi dan pencemaran. Jika tak ada solusi, kami akan terus menggelar aksi dengan massa yang lebih besar," tutup Ali.