LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tukiman, pedagang minyak keliling sekarang jualan angkringan

Empat tahun lalu, masih sering kita dengar teriakan pedagang penjual minyak.

2013-05-04 11:37:00
profesi unik
Advertisement

Masih terngiang-ngiang di telinga kita, terutama di telinga ibu-ibu rumah tangga, tiga atau empat tahun lalu, hampir setiap hari kita dengarkan suara nyaring memanggil "minyak, minyak". Ya aktivitas penjual minyak tanah keliling menjadi pemandangan sehari-hari, di sekitar kita. Jumlahnya pun bisa mencapai puluhan atau belasan.

Di Indonesia, pedagang minyak tanah keliling ini, jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Sementara ratusan ribu orang lainnya dinafkahi dari hasil usaha itu. Namun, ketika persediaan minyak tanah perlahan dikurangi, bahkan hilang akibat program konversi minyak tanah ke gas, apa yang mereka lakukan. Jualan gas?

Jualan gas tidak semudah yang dibayangkan. Padahal di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun berdagang minyak, sehingga menjadi profesi tersendiri. Tak sedikit dari mereka yang mengaku sulit jika harus berganti profesi. Namun jika tidak dilakukan niscaya mereka tak bisa menafkahi keluarganya.

Profesi sebagai pedagang minyak tanah keliling pernah dialami oleh Tukiman alias Gembus. Pria berusia 42 tahun warga Semin, Gunung Kidul ini sudah 8 tahun menjalankan profesinya.

"Saya sudah sejak tahun 2000 mas jualan minyak. Saya dulu kerja di pabrik, tapi kena PHK," ujar Tukiman.

Tukiman yang sekarang menjadi pedagang angkringan di Sukoharjo mengaku kesulitan meninggalkan pekerjaan sebagai tukang minyak keliling. Meski warga Gunung Kidul, Tukiman menjual dagangannya di perkampungan sekitar Solo, atau Sukoharjo.

"Dulu saya pakai sepeda yang saya kasih beronjong dibonceng. Kanan 20 liter, kiri 20 liter. Jadi sehari saya bisa jualan 40 liter," kata Tukiman ketika ditemui merdeka.com di rumahnya, Desa Kadilangu, Baki, Sukoharjo, Jumat (4/5) malam.

Tukiman mengaku, dari hasil jualan minyak tersebut bisa menghidupi istri dan ketiga anaknya. Satu liter minyak tanah Tukiman mengantongi laba Rp 300 hingga Rp 500.

"Dulu itu minyak masih murah, saya kulakan Rp 4.000 sampai Rp 4.500. Saya jualnya Rp 4.500 sampai Rp 5.000. Tergantung kesepakatan. Kadang ada ibu-ibu yang nawar," tambahnya.

Dari hasil jualan minyak tersebut, dalam sehari Tukiman bisa mengantongi penghasilan Rp 15.000 hingga Rp 25.000. Meski sedikit, Tukiman mengaku penghasilan tersebut cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sebelum beralih profesi sebagai pedagang angkringan, Tukiman mengaku pernah mencoba beberapa pekerjaan lain. Yakni buruh bangunan, buruh sawah, dan sebagai abang becak.

"Susah mas, enggak ada modal. Tapi sejak tahun 2010 saya dibantu teman, dipinjami modal untuk jualan angkringan ini. Hasilnya lumayan, daripada pekerjaan saya yang dulu," ungkap Tukiman ceria.

Dari berdagang angkringan, Tukiman menceritakan bisa meraup hasil Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per harinya. Dagangan yang paling banyak dicari dan menjadi fovorit pembeli adalah wedang jahe dan nasi kucing.

"Saya berharap pemerintah memperhatikan nasib teman-teman saya sesama pedagang minyak. Masih banyak yang nganggur. Mereka bingung mau kerja apa," keluhnya.

Cerita tersebut hanya sebagian kecil pedagang minyak tanah keliling yang sudah bisa beralih profesi. Namun tentunya masih banyak pedagang lain yang mungkin belum bisa lepas dari jerat kesulitan. Memang dengan adanya konversi minyak tanah ke gas, akan terjadi penghematan subsidi pemerintah ratusan miliar rupiah. Hanya dampak lainnya ternyata menambah jumlah pengangguran. Celakanya kemampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan sangat terbatas.

Kebijakan pemerintah untuk program konversi minyak tanah ke gas, tak dibarengi dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang terjadi. Kenyataannya ujung tombak distribusi minyak tanah ke masyarakat adalah bukan Pertamina, tetapi pedagang minyak tanah keliling.

Kita berharap, teriakan pedagang minyak tanah keliling sekarang terngiang-ngiang di telinga para pengambil kebijakan. Bagaimanapun, mereka adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak untuk mempertahankan hidup, untuk memperbaiki kesejahteraan.(mdk/has)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.