Tragedi kemanusiaan di kawasan elite Menteng
Di balik tembok-tembok tua rumah bersejarah itu, bukan tidak mungkin masih ada Elisabeth atau Erfienne lain.
Nenek Theresia (73), tewas setelah membusuk lebih satu minggu di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Nenek ini tinggal hanya berdua bersama kakaknya! Elisabeth (75). Kematian Theresia tidak diketahui siapa pun. Warga baru sadar saat tercium bau busuk di rumah yang terletak di Jl Surabaya, Menteng ini.
Warga tidak tahu menahu soal kematian nenek ini. Baru setelah polisi datang dan mendobrak pintu kamar Elisabeth, Senin (26/3), kisah ini terkuak. Yang mengagetkan adalah mayat Theresia ini sudah sejak 9 Maret ditunggui oleh Elisabeth, seolah abai dengan bau busuk adiknya.
Kasus kematian adik Elisabeth bukan pertama kalinya, Pada tahun 2008 lalu, kasus serupa juga terjadi. Kisahnya pun tak jauh beda. Erfienne (83) tewas membusuk di kolong ranjang rumahnya. Di ruangan lain, Louisje Komala (81), adik Efrienne terduduk gemetar di kamar lain dalam kondisi kelaparan dan dehidrasi. Louisje sudah tidak sanggup berjalan lagi. Rumah kedua nenek ini terletak di kawasan Menteng, tepatnya di Jalan Latuharhary 6A.
Sosiolog Universitas UIN Syarif Hidayatullah Musni Umar menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan. Masyarakat di lingkungan elite makin individualistis. Hubungan dengan sesama manusia hanya soal materi dan keuntungan belaka.
"Ini sangat disayangkan. Cermin masyarakat yang tinggal di kawasan elite," kata Musni saat dihubungi merdeka.com, Selasa, (26/3).
Musni memperkirakan bisa jadi kisah tragis dua orang nenek ini bukan yang terakhir. Masih banyak lansia yang tinggal hanya seorang diri atau berdua dalam rumah-rumah tua di Menteng.
"Tidak semua orang yang tinggal di Menteng itu mantan wapres atau presiden. Tidak semuanya punya ajudan atau pengawal. Sehingga kematiannya pun sering tidak diketahui," jelas Musni.
Menteng memang kawasan elite. Kawasan ini dibangun sebagai hunian terpadu di Batavia sekitar tahun 1910. Tim arsiteknya dipimpin oleh PAJ Mooijen, seorang arsitek Belanda. Menteng disiapkan untuk hunian masyarakat kelas atas Eropa. Jalan-jalan besar dengan taman yang asri merupakan ciri perumahan di Menteng. Proyek Menteng yang dinamakan Nieuw Gondangdia dan menempati lahan seluas 73 ha.
Saat Belanda jatuh, giliran para petinggi tentara Jepang yang menempati rumah-rumah elite itu. Rumah Laksamana Maeda yang digunakan untuk merumuskan teks proklamasi pun terletak di Menteng. Dulu namanya Jl Teji Meijidori kini bernama Jl Imam Bonjol.
Setelah kemerdekaan, gantian pejabat-pejabat republik yang kebagian jatah hunian mewah di Menteng. Mulai dari wakil presiden, perdana menteri, menteri, hingga jenderal TNI. Kini hunian menteri dipindah ke Jl Widya Chandra, Kuningan, Jaksel.
Menteng sekarang masih sama dengan zaman Belanda dulu. Masih elite, dengan jalan-jalan mulus yang rapi dan Taman Kota yang asri.
Namun di balik tembok-tembok tua rumah bersejarah itu, bukan tidak mungkin masih ada Theresia atau Erfienne lain.(mdk/ian)