Tolak pengerukan pasir, nelayan bersitegang dengan personel TNI
Massa menantang para anggota TNI tersebut bertarung fisik di atas laut.
Massa nelayan yang tergabung dalam Forum Masyarakat Pesisir Suramdu (FMPS) di Surabaya menggelar demonstrasi sejak siang tadi. Para nelayan di Selat Madura ini, menyandera kapal keruk milik PT Gora Gahana yang dijaga ketat delapan personel TNI.
Sekitar pukul 18.00 WIB, para nelayan yang tinggal di kawasan Nambangan, Kenjeran ini, berbondong-bondong menuju zona tiga, sekitar tiga mil dari bibir pantai. Di atas perahu miliknya, massa kemudian mengepung kapal yang digunakan PT Gora Gahana untuk mengeruk pasir di kedalaman laut, sekitar 12 meter.
Mereka berteriak-teriak di atas perahu mengecam aksi pengerukan pasir yang dilakukan PT Gora Gahana yang dilindungi Dispotmar Lantamal V TNI AL.
"Maling pasir. Maling pasir. Maling pasir," teriak mereka, Senin (29/10).
Sempat terjadi perak mulut antara massa dengan delapan anggota TNI yang berada di atas kapal keruk. Sementara para nelayan yang menyiapkan bom molotov di perahunya, menantang para anggota TNI tersebut bertarung fisik di atas laut.
Para nelayan di Selat Madura ini, meminta kapal keruk tersebut segera dipindah dari pantai paling lambat hingga besok pagi.
"Jika tidak, kami akan mengerahkan massa yang lebih banyak lagi, untuk mengusir kapal tersebut dari Selat Madura. Bahkan, tadi saya sudah ditelepon oleh teman-teman nelayan di Pulau Madura yang siap bergabung," kata salah satu pengunjuk rasa, Munir.
Menurut Munir pengerukan pasir yang dilakukan PT Gora Gahana membahayakan ekosistem yang ada di laut. "Karena proyek ini, ikan-ikan yang ada di sini hilang, entah pergi ke mana. Kerang dan terumbu karang di sini juga mati," katanya.
Selain itu, bahaya lainnya adalah, perkampungan di pesisir pantai terancam amblas. "Karena jelas tanah yang berada di bawah rumah-rumah penduduk akan tergerus ke bawah akibat pengerukan pasir tersebut," katanya.(mdk/dan)