TKI Banyuwangi yang koma juga diterapi pakai kaset pengajian
"Nanti dia mungkin akan tinggal di rumah sakit dalam waktu yang lama, seperti pasien face off di Surabaya," kata Hery.
Selain diterapi dengan cara diperdengarkan lagu dangdut Rhoma Irama, Sihatul Alfiyah (25), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur, yang koma setelah pulang dari Taiwan, juga diterapi dengan diperdengarkan kaset-kaset pengajian.
"Tidak hanya lagu-lagu Rhoma, tapi juga didengarkan kaset pengajian. Itu secara tidak langsung juga memberi respon. Artinya tindakan ini membangkitkan memori dan saraf-saraf yang tidak maksimal menjadi maksimal," kata Ketua tim dokter RSUD Blambangan, Banyuwangi, Hery Subiakto, kepada merdeka.com, kemarin.
Menurut Hery, Alfiyah didiagnosa menderita Kelumpuhan Otak Besar(Cerebral Palsy/CP). CP adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya. Menurut dia, diagnosa itu sama dengan hasil diagnosa tim dokter di Chi Mei Medical Center di Liouying, Taiwan.
"Diagnosa cerebral palsy dengan kerusakan otak permanen. Meskipun tidak pada bagian batang otak seperti diduga sebelumnya. Tapi pada bagian-bagian titik otak tertentu, memang ada gambaran pada CT scan mengalami penyusutan volume dan kematian jaringan otak," kata Hery.
Hal itu mempengaruhi kerja saraf-saraf tubuh lainnya. Itu menjadikan Alfiyah koma hingga tubuhnya kaku seperti robot dalam rentang waktu lama.
"Dia mengalami kekakuan di tubuh, sebab terlalu lama istirahat di tempat tidur akibat kelainan sentral di otak. Gerakan motorik tubuh dan otot-otot kaku. Pada waktu awal dia datang seperti robot. Terus fisioterapi, rehabilitasi medik, sekarang sudah lemah, tidak sekaku awal-awal dia datang," ujar Hery.
Dengan kondisi seperti itu, dokter Hery mengimbuhkan, kondisi Alfiyah sulit kembali normal. "Kelainan otak penyembuhannya tidak sesempurna yang lain. Penyembuhannya jelek. Tidak bisa seperti semula. Nanti dia mungkin akan tinggal di rumah sakit dalam waktu yang lama, seperti pasien face off di Surabaya (Siti Nur Jazilah)," terang Heru menegaskan.
Sebelumnya, Sihatul Alfiyah, TKI asal Banyuwangi ini mengalami koma usai bekerja di Taiwan selama 8 bulan lebih. Dia berangkat ke Taiwan dan bekerja di peternakan sapi perah di Tainan City. Ia harus mengurus 300 ekor sapi perah seorang diri mulai pukul 03.00 hingga pukul 22.00 waktu setempat.