Tinggal di Rumah Mewah, Pasutri Asal Klaten Masuk Keluarga Miskin
Tinggal di sebuah rumah mewah, belum tentu bergelimang harta atau serba kecukupan. Bisa saja rumah tersebut merupakan warisan atau bantuan dari saudara atau kerabat lainnya.
Tinggal di sebuah rumah mewah, belum tentu bergelimang harta atau serba kecukupan. Bisa saja rumah tersebut merupakan warisan atau bantuan dari saudara atau kerabat lainnya.
Seperti yang dialami pasangan suami istri Erna (36) dan suaminya, Marino (36). Wargai Dusun Telukan, Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten itu saat ini menempati rumah mewah berlantai dua. Bercat hijau, dinding rumah tersebut juga dipasangi keramik.
Namun belakangan rumah keduanya menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya di rumah tersebut tertempel stiker keluarga miskin penerima bantuan sosial.
Sekretaris Desa (Sekdes) Wanglu, Daroni (51) membenarkan adanya pemasang stiker tersebut. Stiker 'Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial' dipasang di rumah Erna pada hari Selasa (17/12) lalu.
"Kita pasang stikernya Selasa lalu," ujar Daroni, Selasa (24/12).
Daroni mengungkapkan, pasangan suami istri tersebut selama ini bekerja sebagai buruh serabutan. Erna sudah terdaftar dalam penerima bansos dari pemerintah sejak tahun 2011 lalu.
"Pekerjaan Erna dan suaminya sehari-hari sebagai buruh serabutan. Rumah itu belum sebulan selesai dibangun dengan bantuan dana dari saudaranya di Jepang," jelasnya.
Daroni menjelaskan, pada awalnya rumah awalnya tidak mempermasalahkan dengan pemasangan stiker. Namun setelah menjadi sorotan, stiker bansos jenis bantuan pangan nontunai (BPNT) tersebut dilepaskan. Erna juga secara sukarela mengundurkan diri penerima bansos dari pemerintah.
"Awalnya memang dia pengin ditempel stiker. Tapi setelah jadi perbincangan masyarakat, kemudian mengundurkan diri," terangnya.
Menurut dia, Erna mengundurkan diri dari penerima bansos pada Sabtu (21/12/) lalu. Pengunduran diri Erna turut disaksikan petugas dari perangkat desa, Dinas Sosial (Dinsos), kepolisian dan TNI serta pendamping PKH.
Daroni menyebutkan, ada sekitar 300 warga di desanya yang menerima bansos BPNT. Sebagian besar warga penerima bansos memang mempunyai mata pencaharian sebagai buruh.
Koordinator PKH Kabupaten Klaten, Theo Markis menerangkan, program BPNT di Klaten dimulai pada bulan Oktober 2018. Sementara rumah dua lantai milik Erna baru dibangun beberapa waktu lalu.
"Rumah dua lantai itu dibangun dengan bantuan adiknya yang bekerja sebagai TKI di Jepang," katanya
Theo menyampaikan, jika pihaknya sudah melakukan konfirmasi terkait pengunduran diri Erna. Pengunduran diri tersebut ditandai dengan berita acara mundur secara sukarela.
"Setelah ada penandatanganan berita acara pengunduran diri, stiker keluarga miskin yang terpasang dilepas," tutupnya.
(mdk/bal)