LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tinggal di panti, Ja'far ke sekolah bawa uang jajan Rp 1.000

Tidur beralaskan tikar dan digigit nyamuk tak masalah bagi Siddik, karena sudah biasa.

2014-02-27 10:00:00
Penganiayaan Panti Asuhan
Advertisement

Muhammad Ja’far Assidik merupakan salah satu anak yang rela tinggal di pesantren. Anak yatim yang duduk di bangku kelas VII itu saat ini dibiayai oleh salah seorang donatur agar tetap bisa sekolah dan tinggal di Yayasan Mardhotillah, Pekayon, Jakarta Timur.

Sidik biasa disapa teman-temannya mengaku tidak malu bergaul dengan rekan-rekan sebayanya. Justru, kata dia, tinggal bersama teman-temannya di yayasan memiliki keunikan tersendiri.

"Bisa belajar mandiri ditinggal orangtua, sekarang tinggal ibu," katanya kepada merdeka.com, Jakarta, Kamis (27/2).

Tidur beralaskan tikar dan digigit nyamuk tak masalah bagi Siddik, karena sudah biasa. Kamar atau yayasan yang ia tempati, tidak jauh jaraknya, sekitar 50 meter di depannya.

Lantaran kamarnya sedang diperbaiki, Siddik bersama teman-teman yatim dan yayasan lainnya harus mengungsi tempat tidurnya ke sebuah aula panti. Tanpa kasur dan hanya alas seadanya.

Bocah berusia 13 tahun ini menjalani rutinitas saban harinya dengan jadwal-jadwal kegiatan yang padat. Mulai pukul 04.30 WIB bangun tidur dan salat berjamaah, selanjutnya mengaji. Kemudian pukul 07.00 WIB pergi ke sekolah di kompleks yayasan tersebut hingga pukul 14.00 WIB siang, istirahat setelah itu salat ashar.

Siddik bersama teman-temannya mengaji kembali dengan sang kiai pesantren, hingga habis isya. Kemudian belajar bersama-sama temannya untuk kegiatan besok harinya dengan pengawasan pembina.

Saban hari, belum tentu Siddik jajan seperti anak-anak pada umumnya. Terkadang ia diberi uang saku yang dititipkan lewat pembinanya dengan nominal seribu hingga lima ribu dan itu pun bukan setiap waktu.

"Enggak apa-apa, mau gimana lagi. Yang penting bisa belajar sama teman-teman," ujarnya.

Arif yang merupakan salah satu pembina anak-anak tersebut menuturkan, Siddik termasuk bocah penurut dan rajin. Di sekolah, ia juga memiliki prestasi lumayan bagus.

Sejak ditinggal meninggal bapaknya, Siddik anak yatim ini hanya mengandalkan ibunya yang ekonominya juga tak seberapa agar tetap bisa sekolah. Lantaran anaknya rajin dan pintar, ada orangtua asuh yang bersedia membantu Siddik agar tetap bisa sekolah.

"Yang membiayai Siddik adalah ibunya sendiri. Dan kebetulan mulai bulan Februari ada 2 orang yang bersedia menjadi donatur untuk membiayai sebagian biaya sekolah dan pesantrennya," jelasnya.(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.