Testing Covid-19 Belum Capai Target, PPKM di Garut Level 3 dan PJJ Diperpanjang
Saat ini di Garut baru bisa melakukan pengetesan rata-rata per hari 1.000 pengetesan atau 7.000 dalam sepekan. Dengan kondisi tersebut maka jumlah pengetesan yang seharusnya masih jauh dari target.
Kabupaten Garut saat ini diketahui turun level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dari sebelumnya 2 menjadi tiga. Turunnya level itu diduga karena jumlah testing Covid-19 yang belum mencapai target.
"Iya turun jadi level 3. Itu karena pengetesan belum mencapai target. Targetnya itu kan 15 orang per 1.000 penduduk. Artinya, dalam sepekan kami harus melakukan tes kepada 37 ribu atau sehari 6.000 orang,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, Selasa (1/3).
Leli mengungkapkan, saat ini di Garut baru bisa melakukan pengetesan rata-rata per hari 1.000 pengetesan atau 7.000 dalam sepekan. Dengan kondisi tersebut maka jumlah pengetesan yang seharusnya masih jauh dari target.
“Kendala pengetesan kurang karena banyak yang tidak mau dites. Padahal banyak yang bergejala. Kontak erat juga banyak yang tak mau dites. Karena mungkin nanti kalau positif aktivitasnya jadi dibatasi. Jadi kami kesulitan mencapai target,” ujar dia.
Kasus Covid-19 Terus Melonjak
Menurut Leli, kasus warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Garut terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dalam sehari, angka peningkatan kasusnya selalu lebih dari 100.
“Kayaknya, diperkirakan awal maret puncaknya. Baru kemudian pekan kedua atau ketiga mulai turun. Untuk BOR (bed occupancy rate) saat ini sudah diatas 50 persen. Kamis sudah tambah (Kasur) di rumah sakit. Untuk isoter (isolasi terpusat) kami juga siapkan ruangan di Diklat KB, kalau yang sekarang (Islamic center dan Rusunawa) full, ruangan di Diklat KB akan dibuka,” kata dia.
Leli mengatakan, dengan kondisi kasus warga yang terkonfirmasi terus melonjak tersebut, menjadikan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Garut diperpanjang. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) pun terpaksa diperpanjang.
"Leveling kita juga naik. Jadinya untuk antisipasi biar penyebaran tidak tambah sporadis. Soalnya di lapangan banyak anak yang bergejala ILI (influenza-like illness). Harusnya kan diperiksa. Namun ketika orang tua tak mengizinkan, kami tak bisa memaksa,” kata dia.
(mdk/gil)