LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tertunda Melepas Rindu karena Corona

Pemerintah melarang aktivitas mudik Lebaran mulai Jumat (24/4) besok. Kebijakan itu untuk mencegah sekaligus memutus rantai penyebaran virus Corona atau Covid-19.

2020-04-22 11:52:39
Larangan Mudik
Advertisement

Pemerintah melarang aktivitas mudik Lebaran mulai Jumat (24/4) besok. Kebijakan itu untuk mencegah sekaligus memutus rantai penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Keputusan itu membuat sebagian masyarakat sedih. Mudik seharusnya menjadi tradisi bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman terpaksa ditunda.

Seperti cerita Mariyam. Sejak jauh hari membeli tiket pesawat tujuan Pontianak, Kalimantan Barat, kini harus dibatalkan.

Advertisement

"Enggak boleh sama pemerintah gara-gara corona. Sudah beli tiket, akhirnya dibatalin tiketnya, udah bayar enam bulan sebelum Lebaran udah beli," kata Mariyam kepada merdeka.com, Rabu (22/4).

Beruntung, tiket yang sudah dia beli diganti uang secara penuh. "Saya kan pakai Citilink, 100 persen dibalikin. Tapi 40 hari kerja baru dibalikin uangnya, baru bisa kembali uangnya. Saya kembaliin tiketnya awal bulan April, dibalikinnya nanti akhir April atau enggak awal bulan Mei, 40 hari pokoknya pas kita pengajuan itu," sebutnya.

Sebenarnya, kata dia, kebijakan ini merugikannya karena batal berkumpul dengan keluarga. Tetapi, suka tidak suka pembatalan tiket harus dia lakukan demi kesehatan dirinya juga keluarga di kampung halaman.

Advertisement

"Saya rugi, karena udah lama enggak pulang kampung. Kangen banget pengen ketemu keluarga di sana, udah lama gitu, saya ngerasa rugi. Karena ruginya enggak bisa silaturahmi," ujarnya.

Sebagai pengganti, dia memanfaatkan fasilitas video call untuk melepas rindu pada keluarga di kampung. Dia sedikit lega karena keluarganya memahami kondisi di tengah wabah Corona ini.

"Ngertiin semua (keluarga), kan dari Pontianak juga enggak boleh ke kampung. Kan kampung suami saya di kampungnya, nah dari Pontianak dari kotanya juga enggak boleh ke kampungnya. Dari daerah-daerah dan kabupaten lain juga enggak boleh. Kita kalau pulang juga percuma, saya kan pulang cuma dua minggu, pulang di karantina dua minggu, cuma sekarang kan enggak boleh," ucapnya.

Tak Ingin Keluarga Terpapar

Hal tersebut juga dirasakan oleh ibu dengan dua orang anak laki-laki yakni Nurzahara Amalia, ia terpaksa harus menunda untuk pergi ke rumah orangtuanya itu yang berada di Menes, Pandeglang, Banten. Ara sapaan akrabnya, menunda mudik Lebaran lantaran kondisi Indonesia yang sedang dilanda virus Corona.

"Kalau Lebaran kan pasti mudik, pasti pulang. Tapi ini enggak (mudik), karena lagi pandemi corona, terus pemerintah juga ngelarang untuk mudik. Orangtua di sana juga udah sepuh, sakit juga. Jadi lebih baik kita yang berkorban, daripada ada resiko apa-apa sama orangtua. Apalagi sini tinggal di zona merah juga kan," ujar Ara.

Untuk melepas rasa rindu dan mengetahui kondisi orangtua di kampung halaman, ia meminta tolong kepada saudara yang berada di kampung untuk mengirim foto orangtua atau melakukan video call. Hal itu cukup mengobati rasa sedihnya.

"Komunikasi lewat video call aja sih, orangtua juga komunikasinya terbatas kan di sana lagi sakit. Jadi enggak bisa terlalu lama, paling lihat foto, minta fotoin saudara yang di sana. Nanya gimana kondisi ayah, terus minta tolong fotoin, video call gitu," ucapnya.

"Lebih baik kita ikuti apa yang disampaikan atau dianjurkan oleh pemerintah, apalagi Presiden udah tegas ya dibanding yang sebelum-sebelumnya. Jadi lebih baik kalau memang sayang keluarga, orangtua. Ya sudahlah kita yang berkorban untuk stay di rumah, enggak mudik dulu, supaya keadaan bisa lebih baik," sambung dia.

"Karena kasihan juga kan kalau di daerah semakin banyak yang terkontaminasi di daerah kan lebih minim tenaga medisnya, lebih minim rumah sakit, layanan gitu-gitu. Kasihan nanti orang-orang di kampung," katanya.

Fuji, warga yang harusnya mudik ke Tuban, Jawa Timur juga membatalkan niatnya. Dia tidak ingin kepulangannya ke kampung halaman justru membuat keluarganya sakit

"Karena kita enggak tahu, apa jangan-jangan kita yang menularkan atau nanti kita yang tertular ketika kita proses perjalanan ke kampungnya atau ketika sampai di kampung, bahkan ketika kita balik lagi ke sini," kata Fuji.

"Jadi dengan kondisi sekarang ini, turunkan ego. Kan bisa dengan video call Whatsapp, telepon, itu sudah cukuplah mewakili rasa rindu, kemudian tetap berkumpul, memastikan keluarga di sana baik-baik saja," jelasnya.

Achmad Ferdiansyah juga sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga karena larangan mudik.

"Sedih pastinya, enggak bisa ziarah ke makam, enggak bisa kumpul dan bertemu keluarga yang setahun sekali kan, yang ketemunya dari mana-mana. Ini terpaksa diam di rumah," ujar Achmet.

Ia berharap agar masyarakat tetap bersabar dengan kondisi sekarang ini. Dia yakin apa yang dilakukan pemerintah langkah terbaik untuk masyarakatnya.

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.