Terima Dubes Bangladesh, Fadli Zon bahas pengungsi Rohingya
Terima Dubes Bangladesh, Fadli Zon bahas pengungsi Rohingya. Padahal, saat ini ada sekitar 1,1 juta warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh karena mendapatkan kekerasan di Myanmar. Isu soal kekerasan etnis Rohingya, kata Fadli mendapat perhatian besar dari anggota DPR dan rakyat Indonesia.
Plt Ketua DPR Fadli Zon menerima Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia Asmal Kabir dan Perwakilan Indonesia Humanitarian Alliance, sore ini. Dalam pertemuan itu, mereka membahas soal kondisi jutaan warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh.
Fadli menyayangkan sikap organisasi ASEAN yang terkesan menutup mata dalam membantu menangani kekerasan terhadap etnis Rohingya. Hal ini karena sistem yang dibangun di organisasi ASEAN bersifat konsensus.
Padahal, saat ini ada sekitar 1,1 juta warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh karena mendapatkan kekerasan di Myanmar. Isu soal kekerasan etnis Rohingya, kata Fadli mendapat perhatian besar dari anggota DPR dan rakyat Indonesia.
"Kita tahu bahwa sampai sejauh ini ASEAN tidak berfungsi dengan baik di dalam menangani persoalan Rohingya. Ada kecenderungan malah menepis dan menutup mata dalam persoalan Rohingya hanya keran ada satu sistem di dalam ASEAN, yaitu konsensus," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Fadli bercerita dirinya telah melihat secara langsung kondisi kamp pengungsi Rohingya di Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh (21/12). Kondisi para pengungsi, menurutnya, sangat menyedihkan.
Saat berinteraksi, para pengungsi menyampaikan cerita kekejaman yang dilakukan militer Myanmar. Dari kesaksian pengungsi di sana, para perempuan diperkosa, ada yg ditembak atau dipenggal.
Mereka berhari-hari bahkan berminggu-minggu harus menyelamatkan diri dari kejaran militer Myanmar hingga akhirnya bisa menyeberangi perbatasan Bangladesh.
"Ini seperti kata Sekjen PBB, sudah merupakan satu pemusnahan etnis, ethnic cleansing, dan ini adalah kejahatan kemanusiaan," tegas Fadli.
Di kamp pengungsian itu, lanjut Fadli, sudah dibangun posko-posko bantuan dari lembaga PBB seperti UNHCR hingga UNICEF. Ada juga organisasi-organisasi non pemerintah berbagai negara termasuk Indonesia.
"Dari Indonesia juga sudah ada NGO-NGO yang beraliansi ke dalam Indonesia Humanitary Alliance yang tadi ya, (terdiri) dari NU Muhammadiyah PKPU, Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Daurot Tauhid, dan lain-lain," ucapnya.
Saya sendiri ketemu mereka dan mereka kehadiran mereka juga sangat bermanfaat bagi pengungsi, sangat dirasakan manfaatnya. Saya kira ini juga satu bentuk partisipasi publik," sambung Fadli.
Atas masalah ini, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini meminta Pemerintah mencari solusi politik dengan pemerintah Myanmar agar kekerasan terhadap Etnis Rohingya bisa dihentikan.
"Kalau tidak ada solusi politik sulit. Jadi harus ada political solution saya kira bisa permanen penyelesaiannya, yaitu mereka harus kembali lagi ke dusun atau desa mereka yang dibakar dihancurkan militer Myanmar," tukasnya.
(mdk/eko)