Teman tak heran Dita ajak keluarga lakukan bom bunuh diri di Surabaya
Teman tak heran Dita ajak keluarga lakukan bom bunuh diri di Surabaya. Faiz mengatakan tak mungkin Dita meninggalkan anak-anaknya dan melakukan bom bunuh diri sendirian. Karena telah berhasil mendoktrin anaknya dimana bom bunuh diri dipahami sebagai jihad dan berbalas surga, maka ia tak ingin masuk surga sendirian.
Peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) menyita perhatian masyarakat Indonesia bahkan dunia. Masyarakat mengutuk peristiwa yang menewaskan belasan orang itu.
Pelaku bom bunuh diri itu merupakan satu keluarga yang melibatkan pasangan suami-istri dan empat orang anaknya. Masyarakat menganggap pelibatan anak-anak sebagai pelaku bom diri tak bisa diterima akal sehat. Mereka menilai sangat tidak masuk akal seorang ayah dan ibu tega melibatkan anak-anaknya.
Kerabat pelaku, Ahmad Faiz Zainuddin menilai cukup masuk akal Dita Oepriarto, kepala keluarga itu mengajak anak-anaknya sebagai 'pengantin' bom bunuh diri. Karena menurutnya Dita telah terdoktrinasi bahwa bom bunuh diri itu termasuk jihad dan imbalannya surga sejak kuliah 30 tahun silam.
"Jadi ini bukan tidak masuk akal," ujarnya dalam diskusi di The Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).
Faiz merupakan adik kelas Dita di SMA 5 Surabaya 30 tahun lalu. Mereka juga sempat berada dalam satu grup pengajian. Tulisan Faiz belakangan viral di Facebook yang menceritakan Dita dan pengalamannya mengikuti pengajian yang mengajak pada gerakan radikalisme.
Faiz mengatakan tak mungkin Dita meninggalkan anak-anaknya dan melakukan bom bunuh diri sendirian. Karena telah berhasil mendoktrin anaknya dimana bom bunuh diri dipahami sebagai jihad dan berbalas surga, maka ia tak ingin masuk surga sendirian.
"Dia pasti tak mau masuk surga sendirian. Nanti bagaimana anak-anaknya kalau ditinggal sendirian di dunia yang sudah dianggap kejam ini. Kemudian anak-anaknya akan dicap sebagai anak teroris," kata dia.
Faiz menceritakan dulu ia sering mengikuti berbagai kajian agama mulai dari yang pahamnya fundamental, radikal, sampai liberal. Ia sempat satu pengajian dengan Dita tapi karena merasa tak betah ia kemudian memilih keluar. Faiz mengaku tetap memantau perkembangan teman-temannya.
Saat mengetahui pelaku bom bunuh diri di Surabaya adalah Dita, ia mengaku terkejut. Itulah yang mendasari dia membuat tulisan yang kini viral tersebut. Menurutnya paham radikal tak serta merta melahirkan gerakan terorisme tetapi dampaknya bisa muncul puluhan tahun kemudian, sebagaimana yang dialami kakak kelasnya itu.
Baca juga:
Pengakuan adik kelas tentang Dita, terpapar radikalisme hingga jadi bomber gereja
Cerita mengejutkan soal Puji, pelaku bom bunuh diri di Surabaya
Hukuman orangtua libatkan anak dalam aksi terorisme akan diperberat
Pemusnahan 54 bom rakitan Surabaya dan Sidoarjo dilakukan di tempat latihan Kodim