Tak masalah digaji kecil, Bayu memang bercita-cita menjadi guru
Pagi hari Bayu berangkat mendidik siswa, malam hari berjualan nasi penyet.
Gaji yang diterima cuma Rp 300 ribu per bulan tidak meruntuhkan semangat Bayu Prihartanto (29) guru honorer SD Negeri 4 Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta untuk tetap menjalani pekerjaannya itu. Baginya, menjadi guru tidak sekadar soal gaji semata, tetapi karena cita-cita.
"Saya jadi guru memang sudah cita-cita dari kecil. Saya pengen mengabdi, mengajar, mencerdaskan anak-anak," katanya pada merdeka.com, Rabu (25/11).
Perjalanan menjadi guru pun dilalui dengan penuh perjuangan. Setelah lulus SMA dia mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta.
"Setelah lulus tahun 2007, saya kemudian jadi guru honorer. Saya tekuni saja sampai sekarang," ujarnya.
Dia meyakini jika menjadi pendidik adalah pekerjaan yang mulia. Meski tidak bisa diandalkan dari aspek ekonomi, tapi itu bukanlah masalah utama.
"Orang hidup itu harus bergerak. Kalau nggak bergerak nggak hidup. Prinsip saya itu. Pokoknya harus bisa. Ya akhirnya ada jalan, meski harus disambi macam-macam," tandasnya.
Bayu pun berusaha untuk tetap profesional. Meski saat malam hari dia harus begadang jualan, dia tetap menyiapkan materi untuk pelajaran.
"Kalau pulang malam jam 10, setelah itu siapkan materi buat besok ngajar. Subuh ke pasar dulu, terus ke sekolah," ujarnya.
Bayu menceritakan perjuangannya merintis usaha warung makan penyetan di sekitaran rumahnya. Karena tak memiliki modal yang cukup, dia pun menggadaikan sepeda motornya untuk modal usaha tersebut.
"Kalau gaji kan gak cukup buat modal, akhirnya gadai motor untuk modal usaha," kenangnya.
Usaha itu pun semula berjalan tersendat. Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai mendapatkan pelanggan setia.
"Untungnya istri saya pinter masak. Jadi istri saya yang bikin bumbu ayam, tempe, tahu, terong, nanti saya yang goreng," ujarnya.
Beberapa pelanggan di warung penyetan Bayu pun banyak yang tidak tahu jika Bayu adalah seorang guru. Bayu pun enggan bercerita tentang profesinya kepada pelanggannya.
"Ngapain cerita-cerita. Mereka kan ke sini buat makan, bukan buat sekolah. Wartawan-wartawan Gunungkidul juga sering makan di sini, tadinya nggak tahu kalau saya guru, setelah tahu jadi banyak yang wawancara. Semoga berkah," ungkapnya.
Yuwono, salah seorang pelanggan Bayu pun mengaku kaget ketika mengetahui jika pemilik warung langganannya adalah seorang guru. Dia lebih kaget lagi ketika mengetahui jika gaji Bayu hanya Rp 300 ribu.
"Guru kan sekarang sudah sertifikasi. Kalau ternyata masih ada yang seperti ini saya tidak tahu. Harusnya guru mendapat penghargaan lebih, mereka kan yang bikin orang jadi pintar," katanya.
Baca juga:
Ini kepala sekolah termuda se Indonesia dengan segudang prestasi
Peringati hari guru, ini pesan Bayu untuk guru-guru di Indonesia
Di Hari Guru, para murid di Kediri minta guru berhenti galak
Ternyata ini harapan Iwan Fals di Hari Guru Nasional kemarin
Di Hari Guru, kepala sekolah dibacok guru olahraga hingga kritis