Tahukah Anda? Wabup Sleman Ajak Generasi Muda Lestarikan Kesenian Lokal Sleman, Jathilan Jadi Primadona!
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyerukan generasi muda untuk mengutamakan dan melestarikan Kesenian Lokal Sleman, seperti Jathilan, demi menjaga jati diri bangsa dan menghidupkan ekonomi.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, secara tegas mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memprioritaskan kesenian dan kebudayaan lokal. Ajakan ini disampaikan dalam upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah yang kaya dan beragam. Beliau menekankan pentingnya melestarikan identitas budaya sendiri daripada tergerus oleh pengaruh kesenian dari luar negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan Danang Maharsa saat menghadiri Festival Jathilan dan Kuliner yang berlangsung di halaman Kantor Kalurahan Margoagung, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan pada hari Minggu, 14 September, sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi Ke-79 Kalurahan Margoagung. Kehadiran beliau menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya.
Danang Maharsa juga mendorong masyarakat untuk menjadikan acara seni budaya semacam ini sebagai wadah inspirasi dan kreativitas bagi generasi muda. Melalui kegiatan yang melibatkan kesenian lokal Sleman, diharapkan muncul bibit-bibit seniman baru yang mampu mengembangkan dan memperkenalkan budaya daerah ke kancah yang lebih luas. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan tradisi.
Pentingnya Pelestarian Kesenian Lokal Sleman
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengutamakan kesenian dan kebudayaan lokal dibandingkan dengan kesenian dari negara lain. Langkah ini krusial untuk menjaga kelestarian budaya dan menunjukkan jati diri bangsa yang kuat. "Dengan begitu diharapkan kesenian yang kita miliki bisa terus lestari serta dapat menunjukkan jati diri bangsa kita," kata Danang.
Beliau menambahkan bahwa acara seni budaya lokal harus menjadi sarana bagi generasi muda untuk terus berkarya dan menginspirasi. Ini adalah kesempatan emas untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap warisan budaya sendiri. Melalui partisipasi aktif, generasi muda dapat menjadi agen pelestarian yang efektif.
Kesenian tradisional Jathilan menjadi salah satu contoh nyata kekayaan Kesenian Lokal Sleman yang masih memiliki daya tarik kuat. Danang Maharsa menyebutkan bahwa Jathilan mampu dinikmati oleh semua kalangan dan usia. "Sampai saat ini jathilan masih menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat," ujarnya, menunjukkan popularitas kesenian ini.
Kesenian Lokal sebagai Penggerak Ekonomi dan Kreativitas
Pertunjukan kesenian tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana vital untuk menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar. Festival Jathilan, misalnya, mampu menarik banyak pengunjung yang secara tidak langsung mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Ini menciptakan simbiosis mutualisme antara budaya dan ekonomi.
Danang Maharsa menjelaskan bahwa festival semacam ini dapat mengumpulkan banyak masyarakat, baik dari Margoagung maupun sekitarnya. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai konsumen potensial bagi produk-produk lokal. "Festival Jathilan ini bisa untuk mengumpulkan banyak masyarakat Margoagung dan sekitarnya, bisa sebagai tontonan sekaligus untuk pelestarian kebudayaan, UMKM nya juga pasti ada sehingga ekonomi masyarakat hidup," jelasnya.
Dengan demikian, acara budaya lokal seperti Festival Jathilan berperan ganda. Selain melestarikan Kesenian Lokal Sleman dan memberikan ruang bagi ekspresi seni, ia juga menjadi motor penggerak roda perekonomian. Ini membuktikan bahwa budaya dapat menjadi aset berharga yang memberikan dampak positif secara luas bagi komunitas.
Komitmen Kalurahan Margoagung dalam Melestarikan Budaya
Lurah Margoagung, Djarwo Suharto, turut menyampaikan komitmennya terhadap pelestarian budaya lokal. Festival Jathilan yang diselenggarakan di wilayahnya diikuti oleh empat kelompok kesenian Jathilan yang berasal dari padukuhan-padukuhan setempat. Partisipasi aktif ini menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi.
Adapun kelompok kesenian Jathilan yang turut memeriahkan festival tersebut adalah:
- Akrap Yuda Tama dari Padukuhan Krapyak 9
- Tirto Manunggal dari Banyu Urip
- Laras Manunggal dari Beteng
- Agung Mudo dari Padukuhan Gentan
Djarwo Suharto berharap agar setiap padukuhan di Margoagung memiliki kesenian budayanya sendiri sebagai upaya konkret pelestarian. "Harapannya tentu setiap padukuhan memiliki kesenian, kalau tidak punya jathilan ya harus ada bergodonya, supaya apa, supaya tidak tergerus oleh waktu seiring perkembangan zaman," katanya. Inisiatif ini penting agar Kesenian Lokal Sleman tidak tergerus oleh modernisasi dan tetap relevan di masa depan.
Sumber: AntaraNews