Survei Indikator: 40,8% Nilai Rapid Test Tak Efektif Identifikasi Awal Cegah Covid-19
Dalam survei itu, 40,8 persen responden menilai rapid test kurang efektif, dan 16,1 persen menilai tidak efektif sama sekali. Responden menilai cukup efektif sebanyak 39,1 persen dan sangat efektif 3,3 persen.
Survei dengan responden kalangan elite yang dirilis Indikator Politik memperlihatkan bahwa rapid test dianggap tidak efektif.
Dalam survei itu, 40,8 persen responden menilai rapid test kurang efektif, dan 16,1 persen menilai tidak efektif sama sekali. Responden menilai cukup efektif sebanyak 39,1 persen dan sangat efektif 3,3 persen.
"Mayoritas menilai menilai rapid test kurang atau tidak efektif sama sekali sebagai alat identifikasi awal untuk pencegahan penyebaran virus Corona," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat rilis survei secara daring, Kamis (20/8).
Namun, para elite menilai protokol kesehatan yang diterapkan efektif untuk mencegah penyebaran virus corona.
sebesar 87,5 persen responden menilai protokol kesehatan cukup atau sangat efektif mencegah penyebaran Covid-19. Hanya 12,5 persen yang menyatakan kurang atau tidak efektif.
"Mayoritas menilai protokol kesehatan cukup efektif," kata Burhanuddin.
Survei kalangan elite ini dilakukan Juli 2020. Survei ini mengambil responden 304 orang dari 20 kota di Indonesia. Mereka berlatar belakang akademisi, redaktur politik dan kesehatan media, pengusaha, pengamat kesehatan, sosial, dan politik, tokoh organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, LSM, dan organisasi profesi. Beberapa tokoh misalnya Rektor ITB, Rektor UGM, Dahlan Iskan, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Mustofa Bisri, Dokter Erlina Burhan, dan lain-lain.
(mdk/gil)