Sukitekno nekat jadi muncikari, tawarkan PSK eks lokalisasi Dolly
Untuk keuntungannya, setiap kali transaksi Sukitekno mendapat Rp 100 ribu hingga hingga Rp 200 ribu dari PSK.
Sejak ditutupnya Dolly dan Jarak sebagai lokalisasi terbesar di Kota Surabaya, Jawa Timur, belum sepenuhnya mati. Bahkan ini menimbulkan banyak beredar prostitusi berkeliaran. Kebanyakan para pekerja seks komersial (PSK) merupakan eks lokalisasi Dolly.
Kasus ini akhirnya terungkap ketika seorang muncikari bernama Sukitekno diciduk. Pria 50 tahun itu ditangkap saat melakukan transaksi dengan polisi menyamar sebagai pria hidung belang.
Sukitekno mengaku sengaja cari sampingan sebagai muncikari lantaran lahan parkir miliknya sepi pengunjung pascapenutupan Dolly. "Iya bagaimana lagi, cari sampingan, mas. Parkiran sepi, iya kerja ini (muncikari) yang saya jalani," kata Sukitekno, Rabu (13/7).
Para PSK ditawarkan pelaku rata-rata mematok tarif hingga Rp 500 ribu untuk sekali kencan. "Tarifnya mulai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu sekali transaksi," ungkapnya.
Untuk keuntungannya, setiap kali transaksi Sukitekno mendapat Rp 100 ribu hingga hingga Rp 200 ribu dari PSK.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga, menuturkan, tersangka ditangkap berdasarkan informasi masyarakat. Banyak laporan menyebut kalau setelah lokalisasi Dolly ditutup, ternyata masih ada bisnis prostitusi secara ilegal.
Polisi kemudian lakukan penyelidikan, dengan menyamar sebagai seorang pria hidung belang. "Dari penyamaran tersebut, kita berhasil menangkap tersangka," tandas AKBP Shinto Silitonga.
(mdk/ang)