LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Strategi polisi pantau penyebaran berita hoaks di media sosial

Sri Suari menuturkan fenomena hoaks maupun ujaran kebencian sudah diprediksi oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian

2018-03-29 23:15:00
Berita Hoax
Advertisement

Ujaran kebencian atau hate speech dan hoaks makin merajalela di media sosial. Juru Bicara Polri, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Sri Suari Wahyuni mengungkapkan, polisi mampu melacak berita hoaks dan ujaran kebencian.

"Kalau ada akun di media sosial seperti Facebook, Instagram ataupun grup apa pun ada kalimat yang 'nyerempet', kami bisa pantau," ujar Sri Suari saat diskusi bertajuk 'Ancaman Hoax dan Ujaran Kebencian Bagi Persatuan dan Kesatuan Bangsa' yang digagas Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) di MGK Kemayoran Office, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (29/03).

Sri Suari menuturkan fenomena hoaks maupun ujaran kebencian sudah diprediksi oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Untuk itu, kata Sri, Kapolri menempatkan manajemen media sebagai salah satu visi utama.

Advertisement

"Jadi, pak Kapolri semenjak beliau naik ketika melakukan fit and propertest di DPR mengatakan, manajemen media sebagai misi utama. Beliau sudah meramalkan ini (hoax) akan terjadi dan benar, belum satu tahun beliau jadi Kapolri dan sudah terjadi," kata Sri

Guna mengatasi hal itu Sri mengaku, Polri telah tindakan baik preemtive, preventif, maupun represif yakni pencegahan bagi masyarakat yang memungkinkan dapat melakukan hal tersebut. Pihaknya juga tak segan-segan akan menindak para pelaku yang dengan sengaja melakukan penyebaran hoaks dengan kepentingan tertentu.

"Ada dua strategi polri karena ranahnya Preemptif, Preventif dan represif. Untuk dimensi prempif dan Preventif dilakukan penanggulangan," ungkapnya.

Advertisement

Selain itu dalam hal ini Polri juga menggandeng para tokoh pemuka agama agar dapat menjadi penengah dan memberikan pemahaman yang baik bagi masyarakat, terlebibih agama memiliki potensi untuk disalah gunakan demi kebutuhan tertentu.

"Kita lihat trend yang berkembang bukan lagi semata-mata politik. Outputnya politik, outcomenya politik. Tetapi metode yang digunakan adalah agama, ketika doktrin agama dijadikan metoda dalam hoaks maka kita dipastikan kita tidak lagi memiliki ruang keraguan, maka yang jadi kolaborator sosialnya adalah tokoh agama. Itu tadi yang dilakukan oleh polri, melibatkan sebanyak mungkin siapa pun beliau dari tokoh baik agama budaya untuk cooling sistem sosial, mesin politik akan tetap panas," paparnya.

Sri juga mengimbau kepada masyarakat agar dapat selektif dalam memilah informasi. Menurutnya di era yang serba digital harus lebih waspada dan peduli terkait informasi yang diterima dan selalu mengedepankan keragu-raguan kan sebuah informasi untuk diyakini bahwa benar sebuah fakta.

"Termasuk bapak ibu dan anak, ketika kita gunakan gadget sisakan ruang keraguan, keraguan itulah yang mendorong kita untuk rasa ingin tahu dan dorongan untuk selalu tabayyun (menyeleksi setiap informasi)," tambahnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mudah menyebarkan sebuah informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Sebab kata Dia secara otomatis yang menyebarkan berita hoaks merupakan pelaku pasif yang kemudian dapat merugikan orang lain.

"Saya jujur ketika seorang yang tidak tahu itu adalah hoaks tapi dishare itu dia adalah pelaku. Jadi saya ingatkan, kalau tidak kami ingatkan kan saya salah," tukasnya.

(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.