LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Status Gunung Anak Krakatau Masih Level Waspada, Belum Perlu Naik ke Siaga

Mulai 3 Februari 2022, teramati embusan asap terus menerus yang berwarna kelabu di Gunung Anak Krakatau. Sementara pada 4 sampai 6 Februari 2022, teramati aktivitas letusan dengan kolom asap berwarna kelabu. Ketinggian berkisar antara 800 hingga 2.000 meter di atas puncak.

2022-02-09 16:19:08
Gunung Anak Krakatau
Advertisement

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Meski demikian, statusnya masih level II atau waspada. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eko Budi Lelono mengatakan sedang melakukan mengevaluasi kondisi Gunung Anak Krakatau. Untuk sementara, status Gunung Anak Krakatau belum perlu dinaikkan menjadi level III atau siaga.

"Saat ini kami mengevaluasi memang belum perlu ada kenaikan status. Ini tim masih melakukan evaluasi data secara menyeluruh untuk mengestimasi potensi ancaman bahaya ke depannya," katanya dalam konferensi pers, Rabu (9/2).

Eko memastikan pemantauan terhadap kondisi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan. Berdasarkan pemantauan secara visual dari gunung Pasuruan, Anyar, dan Kalianda, dan CCTV Gunung Anak Krakatau sendiri, terlihat embusan asap dari arah kawah berwarna putih tipis hingga tebal dengan tekanan lemah sampai sedang.

Advertisement

Mulai 3 Februari 2022, teramati embusan asap terus menerus yang berwarna kelabu di Gunung Anak Krakatau. Sementara pada 4 sampai 6 Februari 2022, teramati aktivitas letusan dengan kolom asap berwarna kelabu. Ketinggian berkisar antara 800 hingga 2.000 meter di atas puncak.

Eko menjelaskan, dari data pemantauan sejak Desember 2021, terpantau gempa-gempa vulkanik di Gunung Anak Krakatau. Ini menunjukkan terjadinya suplai magma dari bawah permukaan.

"Jadi kondisi ini mengindikasikan terjadinya over pressure pada gunung Gunung Anak Krakatau yang ini sudah kita deteksi sejak Desember 2021. Volume intrusinya belum besar, ini diindikasikan dari magnitudo gempanya dan pemantauan deformasi," paparnya.

Advertisement

Peningkatan kegempaan di Gunung Anak Krakatau terpantau sejak 22 hingga 21 Januari 2022. Gempa yang terjadi didominasi frekuensi rendah.

"Ini menunjukkan gempa-gempa dangkal, sedangkan kegempaan ini sempat menurun selama dua hari ini dan pada 3 Februari muncul getaran tremor menerus yang diikuti aktivitas hembusan menerus," ucapnya.

Sementara berdasarkan pemantauan dari citra satelit, Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas magmatik yang ditandai dengan terdeteksinya gas SO2. Namun anomaly termal belum teramati satelit, artinya aktivitas yang terjadi didominasi oleh eksplosif atau lontaran material vulkanik daripada aliran lava.

"Selanjutnya, data deformasi dari satelit belum mengindikasikan adanya perubahan yang signifikan. Data di lapangan menunjukkan ada deformasi permukaan dari Gunung Anak Krakatau, namun belum menunjukkan hal yang signifikan," katanya.

Baca juga:
Karakteristik Gunung Hunga Tonga dan Anak Krakatau Identik
CEK FAKTA: Ini Bukan Video Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 Februari 2022
Daftar 9 Gunung Api di Indonesia yang Bisa Picu Bencana Tsunami
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Operator Kapal Diminta Lebih Waspada
Usai Erupsi, Tinggi Gunung Anak Krakatau Berkurang Jadi 158 Meter
Gunung Anak Krakatau Erupsi 9 Kali, Warga di Radius 2 KM Diminta Menjauh

(mdk/rhm)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.