SPP-HAM Papua pertanyakan kasus Polisi tembak dua warga Aimas
"Jangan ada lagi kekerasan yang menimpa warga," kata Bovit.
Solidaritas Penegakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SPP-HAM) Papua mempertanyakan penanganan peristiwa 1 Mei yaitu penembakan Polisi terhadap warga Aimas, Sorong, Papua Barat. Mereka berencana menggelar aksi demo damai pada Senin besok.
"Pada Senin besok, SPP-HAM Papua bersama sejumlah elemen lain akan bergabung dan menggelar aksi demo damai di Kota Jayapura," kata Ketua SPP-HAM Papua Bovit Bofra kepada Antara di Jayapura, Papua, Minggu (12/5).
Dia mengatakan, bersama elemen lain SPP-HAM ingin bertanya sikap Polisi yang menembak beberapa warga di Aimas, padahal informasi yang didapatkan SPP, warga di sana tidak melakukan perlawanan.
"Hal inilah yang ingin kami perjuangkan. Jangan ada lagi kekerasan yang menimpa warga, dan aksi demo damai besok itu akan melibatkan sejumlah organisasi dan masyarakat Papua pada umumnya," katanya.
Bovit juga mengimbau kepada segenap masyarakat agar mendukung aksi tersebut dan menolak berbagai aksi kekerasan yang sering terjadi di Tanah Papua.
"Kami berharap aksi itu didukung oleh semua pihak, dan berharap agar tidak ada tindakan represif dari aparat keamanan terkait aksi damai pada Senin besok," katanya.
Senada itu Sekretaris Jenderal West Papua National Authority (WPNA) Marthen Manggaprow meminta kepada Pemerintah Provinsi Pusat dan Papua untuk menuntaskan masalah penembakan warga di Aimas.
"Jangan biarkan masalah ini terus menjadi pertanyaan di tengah warga dan ini merupakan perjuangan kami," katanya.
Kasus kekerasan di Aimas pada 1 Mei bermula dari laporan masyarakat tentang adanya warga yang berkumpul dan diduga merencanakan pengibaran bendera (bintang kejora) separatis.
Aparat gabungan TNI/Polri dengan menggunakan dua mobil kemudian mendatangi lokasi itu, namun diserang warga menggunakan senjata tajam hingga menyebabkan satu anggota TNI dari Koramil Aimas yakni Peltu Sultomi mengalami luka serius di kepala.
Di pihak warga, dikabarkan dua orang tertembak hingga mati yakni Thomas Blesya dan Abner Makagawak dan beberapa lainya luka-luka. Kemudian pada Senin (6/5) malam Nyonya Salomina Kalaibin salah satu korban luka tembak yang sempat dirawat di RSUD setempat juga meninggal.
Terkait kasus itu, aparat kepolisian langsung mengolah tempat perkara sekitar perkampungan di Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, dan berhasil menemukan barak yang diduga sebagai tempat pelatihan anggota OPM, bendera bintang kejora dan sejumlah dokumen.
Wakapolda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw ketika dihubungi Antara melalui telepon di Sorong, Jumat (10/5), mengatakan sebanyak 27 personel TNI dan Polri sedang diperiksa tim gabungan dari Polisi Militer Kodam XVII Cenderawasih dan Propam Polda Papua.
Ia mengatakan bahwa pemeriksaan terhadap anggota itu perlu dilakukan untuk mengungkap apakah peluru yang menewaskan dan mencederai warga berasal dari senjata yang dibawa anggota TNI dan Polri.
"Kami harus dapat memastikan apakah para korban terluka dan tewas akibat peluru yang ditembakkan anggota," katanya.(mdk/mtf)