Solo kota terpadat se-Jateng, Pemkot galakkan KB
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Ariani Indiastuti mengatakan, untuk menekan ledakan pertumbuhan penduduk, Pemkot Solo akan menggalakkan program keluarga berencana (KB) di tahun ini.
Kota Surakarta atau juga disebut Solo memiliki luas 44 kilometer persegi menjadi kota dengan jumlah penduduk terpadat di Jawa Tengah. Dengan luas tersebut, setiap satu kilometer dihuni 12.000 jiwa, padahal idealnya satu kilometer dihuni 5.000 jiwa.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Ariani Indiastuti mengatakan, untuk menekan ledakan pertumbuhan penduduk, Pemkot Solo akan menggalakkan program keluarga berencana (KB) di tahun ini.
"Kami sudah kumpulkan seluruh penyuluh lapangan agar aktif menjaring peserta KB. Program KB harus terus digenjot agar laju pertumbuhan penduduk bisa ditekan," ujar Ariani kepada wartawan, Rabu (18/1).
Ariani menguraikan, selama ini baru 66,83 persen dari jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 71.913 yang menjadi peserta KB aktif. Sedangkan 23.850 PUS hingga kini tidak KB. Langkah jemput bola diupayakan Pemkot untuk menyasar PUS yang belum ber-KB. Pihaknya mentargetkan 100 persen PUS sudah menjadi peserta KB.
"Jumlah PL KB kami untuk mencapai target 100 persen memang belum ideal, itu kesulitannya. Dari 51 kelurahan, kani cuma punya 38 PL KB. Jadi tidak semua kelurahan memiliki satu petugas PL KB. Beberapa PL KB terpaksa harus dobel mengampu dua kelurahan," jelasnya.
Wali Kota Solo F.X Hadi Rudyatmo menambahkan, pihaknya mentargetkan setiap tahun untuk mencanangkan satu Kampung KB di setiap kecamatan. Dengan harapan bisa menekan laju pertumbuhan penduduk. Tahun lalu, Kampung KB dicanangkan di wilayah Pucangsawit. Wilayah pinggiran Kota Solo ini menjadi sasaran pertama Pemkot untuk menjadi pilot project pembentukan Kampung KB.
"Pencanangan kampung KB jangan hanya sebatas seremonial dan berhenti di jalan, tapi harus terus berjalan. Yang sekarang punya anak 1, diatur agar maksimal 2. Kalau sudah 2 dijaga, disetop. Jika nanti tambah lagi, maka program ini gagal," katanya.(mdk/dan)