Soal LKS bersampul 'alat kelamin', Disdik Malang salahkan percetakan
Disdik mengatakan kesalahan ada pada penyunting dan penerbit.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang menyalahkan pihak percetakan, terkait adanya Lembar Kerja Siswa (LKS) bersampul tulisan Jawa dianggap kurang patut. Namun, mereka menyatakan tidak sempat melihat sampulnya, dan hanya menyeleksi isinya.
"Tim penyusun tidak melihat covernya, hanya melihat isinya. Akan kita evaluasi, yang membuat editornya," kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang, Zubaidah, Jumat (19/2).
Atas kesalahan itu, kata Zubaidah, pihaknya menyiapkan sanksi kepada editor percetakan. Sementara terkait isi materi menjadi tanggung jawab tim penyusun tidak ditemukan masalah. Isi buku telah melalui proses penyuntingan.
"Tentu (kita sanksi) editor pertama sudah kita sanksi, kedua ini tentu juga kita sanksi. Tapi tidak etis kalau saya sampaikan," ujar Zubaidah.
Zubaidah melanjutkan, desain sampul LKS merupakan kreasi dan imajinasi desainer. Namun menurut dia tidak ada masalah dalam sampul itu. Namun buat menghindari salah ucap, akhirnya diganti.
Tulisan dipakai, katanya mengacu pada nama-nama hewan, yaitu Burung Kuntul dan Kuda, yang dalam bahasa jawa menjadi Kuntul Jaran. Selain itu, LKS belum dibagikan kepada siswa.
Sampul LKS bidang studi Bahasa Jawa itu menggunakan kata, oleh sebagian orang dimaknai sebagai kelamin laki-laki. Kata itu ditulis dengan huruf Jawa dalam dua baris memang terlihat kurang jelas. Tulisan itu bersanding dengan foto papan nama Jl. Besar Ijen, tulisan Basa Jawa, dan tugu Kota Bunga.
Sekilas memang tidak terlihat janggal, tetapi mereka yang memahami huruf Jawa akan bertanya-tanya. Sebab tulisan itu mengarah pada kata alat kelamin pria dan kuda.
Huruf Jawa terlihat hanya Ka yang ditaling-tarung sehingga berbunyi Ko, dan huruf Na yang juga ditaling tarung yang bunyinya menjadi No. Jadi bukan Kuntul, seperti dikatakan Zubaidah.
Sementara huruf terakhir kurang jelas karena tidak ada dalam daftar huruf Jawa. Diduga huruf La yang dipangku (mati) sehingga menjadi L. Sementara di bawah huruf Na terdapat aksara pasangan Ta, berfungsi untuk menekan vokal di depannya.
Baris kedua yang terlihat huruf Ja, bersambung huruf tidak jelas mirip alphabet R dan a yang disambung. Dilanjutkan dengan huruf Na dipangku berarti N mati. Jika dibaca secara utuh akan berbunyi 'Konol Jaran'.
LKS itu buat Sekolah Dasar (SD)/Madarasah Ibtida'iyah (MI) se-Kota Malang, buat kelas 1 sampai kelas 6. LKS diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang. Semua sampulnya menggunakan gambar sama.(mdk/ary)