Sering Kebanjiran, 75% Warga Pondok Gede Permai Tolak Direlokasi
Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, mengatakan saat bertemu dengan warga, mereka santai saja. "Mereka enjoy ngobrol sama saya, biasa saja, seolah enggak terjadi apa-apa," kata Rahmat Effendi.
Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, mengatakan sebanyak 75 persen warga yang bermukim di Perumahan Pondok Gede Permai, Jatiasih, menolak direlokasi. Padahal, lokasi tersebut menjadi langganan banjir karena limpahan Kali Bekasi.
"Sepertinya 75 persen menolak. Mereka enjoy ngobrol sama saya, biasa saja, seolah enggak terjadi apa-apa," kata Rahmat Effendi, Rabu (15/1).
Sebelumnya, Rahmat Effendi mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo supaya pemerintah pusat merelokasi warga di Pondok Gede Permai. Relokasi, kata dia, demi keamanan, dan kenyamanan warga yang bermukim di sana.
"Kalau tidak direlokasi, minimal 20 meter dari bibir sungai dijadikan area tangkapan air," kata Rahmat.
Karena itu, kata dia, tak seluruhnya rumah warga di Pondok Gede Permai tergusur. Ia menyebut, tangkapan air bisa dibuat di perbatasan dengan Perumahan Vila Nusa Indah sampai dengan jembatan Bojongmenteng lalu dibuatkan bendungan berikut pompa air.
Rahmat menambahkan, air di Kali Bekasi cepat melimpas ketika ada kiriman dari Bogor karena kedalamannya semakin berkurang akibat sedimentasi. Maklum saja, Kali Bekasi tercatat dinormalisasi pada tahun 1975-1976.
"Setiap banjir bawa lumpur sama sampah kedalaman paling (sekarang) dua meter, kalau dulu bisa 10 - 12 meter," kata Rahmat.
Berdasarkan catatan BNPB jumlah keluarga yang bermukim di PGP, Jatiasih mencapai 1300 lebih terdiri dari tiga rukun warga antara lain RW 08, 09, 10 Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih. Selain kawasan ini, wilayah terdampak di lokasi yang sama adalah Vila Nusa Indah 1, 2, dan 3 di Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
(mdk/lia)