Seorang Ibu di Tangsel Meninggal Akibat DBD
Ati (51) meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di Puskesmas Keranggan dan RSU Tangerang Selatan selama 12 hari.
Ibu rumah tangga di RT012/RW005 Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, meninggal dunia akibat penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Ati (51) meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di Puskesmas Keranggan dan RSU Tangerang Selatan selama 12 hari.
Marpudin (39) menantu almarhumah mengaku menerima dengan ikhlas kepergian sang mertua. "Kami keluarga ikhlas menerima ini sebagai takdir," katanya, Jumat (15/3).
Diterangkan dia, Ati adalah Ibu rumah tangga yang memiliki sambilan sebagai pembuat kue itu, mendadak terkena demam pada awal Maret 2019 kemarin.
"Karena demam tinggi, akhirnya periksa ke Puskesmas di depan, ternyata kena DBD, trombositnya waktu itu 90 ribu dan langsung di rawat selama dua hari," ucapnya.
Dalam masa perawatan di Puskesmas tersebut, kondisi Ati semakin memburuk. Bahkan trombositnya sempat drop hingga 40 ribu hingga akhirnya di larikan ke RSU Tangerang Selatan.
"Di Puskesmas Keranggan 2 hari 2 malem dirawat, terus makin drop dan di rujuk ke RSU," terang dia.
Almarhumah Ati kemudian menempati ruang UGD selama 3 hari. Di ruang UGD kondisinya juga belum menunjukan perbaikan, sampai akhirnya oleh tim medis RSU, Ati ditempatkan di ruang ICU.
"Di ICU selama 4 malam, sudah terlihat sangat membaik. Kemudian dipindah ke kamar perawatan biasa," jelas Marpudin.
Bukan semakin membaik, Ati justru drop hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir Jumat (15/3) pagi sekitar pukul 05.30 WIB.
"Almarhumah dua hari dua malam di kamar perawatan biasa, setelah dinyatakan lebih baik dari kamar ICU. Tapi kemarin malam sekitar pukul 03.00, Ibu malah menggigil, badannya panas tinggi, terus tanganya keluar bintik-bintik merah sampai akhirnya meninggal dunia," ucapnya.
Selain ibu mertuanya yang terkena DBD, beberapa orang warga di sekitar tempat tinggal Ati juga terserang DBD. "Yang saya tahu sudah banyak, kemarin cucunya, si Nofal itu kena juga. Terus tetangga lain juga ada,” katanya.
Marpudin menambahkan, wilayah RT12/5 Kelurahan Keranggan ini, belum pernah sekalipun dilakukan pengasapan (fogging).
"Fogging belum pernah ada, padahal yang kena DBD cukup banyak, memang lagi musimnya. Ya kami berharap ada upaya serius untuk memberantas DBD di kampung kami, apalagi kampung kami ini nempel dengan puskesmas. Pemberian Abate juga engga pernah," harapnya.
Terpantau, kampung tempat tinggal almarhuman Ati ini masih banyak lahan kosong seperti kebun sehingga berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak.
"Kalau fogging mungkin pemerintah berharap sama caleg, pas lagi musim Pemilu. Tapi akhirnya calegnya juga enggak fogging, pemerintah juga enggak. Jadi cuma saling ngandelin," tandasnya.
Baca juga:
Cegah Demam Berdarah, Warga Duren Sawit Sebar 300 Ikan Guppy dan Cupang
5 Jenis Nyamuk yang Juga Harus Diwaspadai Selain Aedes Aegepty
Ini Penyebab Nyamuk Penyebab DBD, Aedes Aegypti Sulit Diberantas
187 Warga Kaltim Terjangkit DBD, 125 Pasien Anak-Anak, 62 Orang Dewasa
Penderita DBD di Kaltim Merangkak Naik, RSUD AW Syachranie Rawat 159 Pasien