LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Sempat mereguk sukses, hidup Sukarno kini diisap rentenir

Sukarno kini harus banting tulang buat melunasi utang dari rentenir yang masih menumpuk.

2016-01-17 13:58:46
Wayang
Advertisement

Wayang sulit dipisahkan dari sosok Sukarno (71). Hingga kini, lembaran tokoh pewayangan tetap menjadi teman hidup kala gembira maupun sedih.

Sukarno mengaku pernah mereguk sukses lewat seni pewayangan. Dia sempat menjadi perajin wayang produktif, di samping sebagai seorang dalang wayang beber. Bahkan sejumlah turis asing kerap datang ke rumahnya berdiskusi tentang wayang.

"Sampeyan lihat, ini foto-foto saya saat masih produksi wayang. Ini para tamu-tamu saya dari banyak negara," kata Sukarno menunjukkan dokumen selalu disimpan rapi di dalam tasnya di Malang, Minggu (17/1).

Tidak disangka, saat ini pria tinggal di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang itu harus sibuk berurusan dengan bank thitil (rentenir). Pria kelahiran Ponorogo itu harus bekerja keras buat mengembalikan utang setelah usahanya gulung tikar. Sukarno kini hidup serba kekurangan. Dia tidak punya tempat tinggal.

"Saya sedih kalau sudah jatuh tempo, kurang Rp 5 ribu saja mereka marah-marah, tidak ada sopan santunnya. Sudah tidak ada harganya lagi," ujar Sukarno.

Setiap berutang Rp 1 juta, Sukarno harus mengembalikan Rp 1,3 juta. Namun hasil berjualan wayang hanya Rp 800 ribu. Dia harus membayar angsuran Rp 130 ribu per hari, kalau tidak mau terkena denda.

"Saya masih punya utang Rp 15 juta," lanjut Sukarno.

Wayang-wayang dipikul Sukarno jadi saksi hidup kesulitan dialaminya. Tokoh Sentyaki, Kresna, Gatotkaca, Warkudoro dia bawa berjalan buat dijajakan kepada pembeli. Tokoh-tokoh itu kini memang tidak lagi dimainkan di depan penonton.

Sukarno juga tidak pernah lepas dari tas besar warna hijau, berisi dokumen dan foto kebesaran masa lalunya. Dia berjalan puluhan kilometer menawarkan wayang-wayangnya demi menyambung hidup.

Sukarno dalang dan pengrajin wayang ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

"Ini tadi jalan dari Landungsari, Dinoyo, Blimbing. Saya memang harus jalan, menawarkan ke rumah-rumah, kalau naik angkutan justru tidak ada yang beli," kata ayah dua anak dan empat cucu ini.

Sukarno sedih dengan keadaannya saat ini. Kesuksesan masa lalu seolah tinggal cerita. Dia mengaku tidak tahu meminta tolong kepada siapa.

Cita-cita membangun budaya bangsa pupus, karena persoalan utang yang harus diselesaikannya. Kesedihannya kerap muncul saat mengingat karya-karyanya yang sudah 'tidak berharga' lagi.

Sukarno mengaku menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR). Ayahnya seorang pejuang, yang selalu mengajarkan ketegaran dalam menghadapi hidup.

"Saya tidak pernah mengeluh, saya tidak akan menyerah," tutup Sukarno.

Advertisement
(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.