LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

'Selembar Merah di Tanah Merdeka', teatrikal memperingati HUT RI di Desa Kandri

'Selembar Merah di Tanah Merdeka', teatrikal memperingati HUT RI di Desa Kandri. Aksi tersebut merupakan suatu upaya agar riwayat perjuangan Bangsa Indonesia tetap diingat. Dengan diiringi musik gamelan karawitan asli Jawa, seolah aksi upacara teatrikal itu dilakukan oleh segenap warga di Omah Alas, Kandri, Semarang.

2018-08-18 03:01:00
HUT RI
Advertisement

Upacara memperingati HUT kemerdekaan Indonesia terlihat tegang saat pemuda melakukan aksi heroik mendekap koper cokelat berisi bendera merah putih. Dengan perjuangan yang sangat keras sehingga membuktikan kemerdekaan telah diraih.

Aksi tersebut merupakan suatu upaya agar riwayat perjuangan Bangsa Indonesia tetap diingat. Dengan diiringi musik gamelan karawitan asli Jawa, seolah aksi upacara teatrikal itu dilakukan oleh segenap warga di Omah Alas, Kandri, Semarang, Jumat (17/8).

Namun, nasib tidak berpihak padanya. Saat mendekap koper itu erat, beberapa durjana menghampiri dan mengeroyoknya brutal. Darah dan air mata bercucuran, tetapi tidak sekalipun ia melepaskan pelukannya dari Sang Merah Putih.

Advertisement

Ketika ia sudah tidak kuat lagi menahan sakit, pasukan bambu runcing datang untuk melawan para durjana itu. Usai mengalahkan para musuh, pasukan bambu runcing menyulap bambunya menjadi tandu. Sang pemuda itu ditandu di sebuah hamparan luas.

Advertisement

Sutradara pementasan, Wahyono Gunung Mahesa mengatakan, aksi upacara HUT ke-73 RI ini baru pertama dilakukan. Dengan mengangkat aksi 'Selembar Merah di Tanah Merdeka'.

"Ini bagian kegelisahan kawan-kawan ketika melihat sebuah upacara hanya menjadi seremoni biasa. Maka dari itu kami menginginkan bentuk edukasi berupa pertunjukan di sela-sela upacara," kata Wahyono Gunung.

Tak hanya teatrikal ditonjolkan dalam upacara, namun warga lain yang melintas melihat upacara langsung mengikuti upacara dengan memasuki barisan.

"Ini tadi banyak warga yang ikut barisan upacara, ada anak sekolah, ibu-ibu yang melintas juga ikut serta upacara sambil melihat aksi teatrikal," terangnya.

Dalam teatrikal tersebut, tidak hanya menceritakan pengorbanan para pejuang saat mengibarkan Merah Putih. Namun juga adanya tokoh-tokoh pejuang yang berjasa sebagai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Soekarno, Bung Hatta, Hos Cokroaminoto, Sayuti Melik, Tan Malaka, Laksamana Maida, hingga Sukarni.

"Banyak anak muda bahkan orang tua yang tidak mengenal siapa Sukarni ini. Padahal Sukarni juga memiliki peran penting dalam persiapan Kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah orang yang menculik Soekarno-Hatta saat malam 17 Agustus 1945," jelasnya.

Gunung menjelaskan dalam proses kreatif ini tanpa persiapan panjang. Namun hanya butuh waktu dua minggu dengan ide dari masing-masing personil.

"Ada 30 orang yang terlibat dari omah alas, masyarakat sekitar, serta mahasiswa KKN Unnes. Mereka semua semangat dan terinspirasi akan perjuangan pahlawan," jelasnya.

Sementara itu, penulis skenario, Kang Ian mengungkapkan bahwa upacara bukan sekadar prosesi yang begitu-begitu saja. Pihaknya ingin menunjukkan perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

"Mengingatkan kembali bahwa Indonesia itu merebut kemerdekaan dengan persatuan dan kesatuan. Tidak peduli SARA. Hal itu terbukti dengan keberadaan Laksamana Maida, orang Jepang tetapi pro Indonesia," ungkapnya.

Aksi teatrikal, musikalisasi, dan puisi itu muncul sebagai bentuk kegelisahan dan keresahan. Mengoreokan puisi "Derai Air Mata" karya Rusdi merupakan salah satu bentuk kegelisahan tersebut.

Usai aksi teatrikal, upacara pun dilaksanakan. Dalam upacara itu, empat lagu nasional dinyanyikan, diantaranya Gugur Bunga, Indonesia Raya, Hari Merdeka, dan Syukur. "Lagu Syukur sengaja dinyanyikan terakhir sebagai bentuk rasa syukur kami atas kemerdekaan Indonesia," tutupnya.

Baca juga:
Pimpin upacara HUT RI, Iriawan puji kedewasaan warga saat Pilkada Jabar
Ini petugas upacara penurunan bendera merah putih di Istana Merdeka
Bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli
Dua gajah sumatera ramaikan pawai Hari Kemerdekaan di Langkat
Tujuh belasan, Pantai Lagoon Ancol dipadati wisatawan
Menpora undang pelajar SMP di perbatasan panjat tiang bendera ke Jakarta
HUT RI, tim gabungan berjibaku padamkan kebakaran lahan gambut di PPU

(mdk/gil)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.