LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Selama Pandemi Covid-19, Layanan Terhadap Pasien HIV/AIDS Terganggu

Meski terjadi penurunan pelayanan, pasien HIV/AIDS tetap mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Jangka waktu konsumsi obat ARV sendiri kini diperpanjang menjadi paling lama tiga bulan, dari sebelumnya hanya satu bulan.

2020-07-09 14:43:30
Covid-19
Advertisement

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Wiendra Waworuntu mengatakan selama pandemi Covid-19, pelayanan terhadap pasien HIV/AIDS terganggu. Akibatnya, banyak pasien HIV/AIDS tidak mengunjungi fasilitas kesehatan untuk menjalani perawatan.

"Dari data kita, terjadi penurunan, tetapi tidak semua. Ya terganggu pelayanannya," ujarnya dalam Talk Show Pelayanan Kesehatan Bagi ODHA di Masa Pandemi Covid-19 di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Kamis (9/7).

Meski terjadi penurunan pelayanan, pasien HIV/AIDS tetap mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Jangka waktu konsumsi obat ARV sendiri kini diperpanjang menjadi paling lama tiga bulan, dari sebelumnya hanya satu bulan.

Advertisement

Wiendra menjelaskan, kasus HIV/AIDS yang sudah ditemukan di Indonesia sejak tahun 2000 sebanyak 388.784. Angka ini masih jauh di bawah perkiraan pemerintah yakni 643.443 kasus.

Dari total kasus yang ditemukan, 283.358 di antaranya sudah menjalani pengobatan, yakni mengonsumsi obat ARV. Sementara 133.158 lainnya masih menjalani pengobatan hingga saat ini.

"Kalau kita lihat angka ini dibandingkan dengan estimasi kita, kita masih sekitar 20 sekian persen yang minum obat ARV," ucapnya.

Advertisement

Alkes untuk HIV/AIDS Masih Rendah

Wiendra menambahkan, fasilitas kesehatan khusus menangani HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 18.399. 11.160 Di antaranya merupakan puskesmas, 6.112 rumah sakit dan 1.127 faskes pembantu.

Alat tes viral load sendiri hanya sekitar 90. Wiendra mengakui, alat kesehatan untuk menangani HIV/AIDS di Indonesia masih rendah dan belum merata.

"Totally mungkin masih sedikit untuk tes viral load dibanding TBC. Kalau kita hitung-hitung mungkin baru 90 alat untuk memeriksa," pungkasnya.

(mdk/eko)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.