SBY Serukan Pendekatan Budaya untuk Atasi Krisis Ekonomi, Lingkungan, dan Geopolitik
SBY menilai bahwa cara pandang terhadap budaya harus diperbarui.
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti pentingnya pendekatan budaya dalam menjawab berbagai tantangan global yang tengah dihadapi dunia, mulai dari krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga ketegangan geopolitik. Menurutnya, budaya memiliki peran vital dalam membentuk arah pembangunan bangsa yang berkelanjutan.
“Apalagi tadi itu, keserakahan, keborosan hidup manusia menyebabkan dunia makin panas, tercemar. Oleh karena itu, sentuhlah dari pendekatan budaya,” ujar SBY usai menyampaikan Orasi Kebudayaan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (8/10), di Kota Bandung.
SBY menilai bahwa cara pandang terhadap budaya harus diperbarui. Ia menyayangkan masih adanya anggapan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan zaman.
“Kadang-kadang kita melihat budaya itu sesuatu yang sudah lewat, masa lalu, past. Wrong, salah itu. Budaya itu hidup, peradaban hidup dan berkembang," ujarnya.
Lebih jauh, SBY menjelaskan budaya tidak hanya berkaitan dengan seni dan tradisi, tetapi juga mencakup pendidikan, pemikiran ilmiah, teknologi, hingga nilai-nilai moral. Semua itu, menurutnya, adalah bagian dari ekosistem budaya yang dapat menjadi solusi dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
“Budaya itu kan pendidikan, teknologi, sains, pemikiran yang jernih, values, dan sebagainya. That's culture. Kalau itu disentuh insya Allah, pasti lebih sukses lagi,” tuturnya.
Namun, menurut SBY, membangun pendekatan budaya yang kuat juga perlu dibarengi dengan pembenahan mentalitas dan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.
"Tanpa diimbangi oleh reformasi, revolusi, sikap mental, values, dan perilaku, tidak akan sukses mengatasi masalah global ini," tambahnya.
Saat ditanya soal kemungkinan dunia saat ini mengalami krisis budaya, SBY memberikan pandangan kritis. Ia tidak menyebutnya sebagai krisis budaya, tetapi lebih kepada penyimpangan perilaku manusia yang sudah tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya yang luhur.
"Saya tidak mengatakan krisis kebudayaan, tapi ada perilaku manusia di seluruh dunia yang sebetulnya tidak mencerminkan budaya yang baik. Itulah yang harus diperbaiki dan dibangun kembali," katanya.