LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

SBY: Kita butuh pemimpin yang hadirkan keputusan baik buat negara

SBY: Kita butuh pemimpin yang hadirkan keputusan baik buat negara. Dalam pidatonya, SBY menyinggung pemerintah saat ini yang gencar membangun infrastruktur dengan mengandalkan utang. SBY juga menyoroti persoalan ketimpangan antara si kaya dan miskin.

2017-08-15 22:14:19
Susilo Bambang Yudhoyono
Advertisement

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan di Auditorium LIPI, Selasa (15/8). Dalam pidatonya, SBY menyinggung pemerintah saat ini yang gencar membangun dengan mengandalkan utang.

"Dua tahun ini pemerintah kita utang lagi untuk pembangunan infrastruktur," ujar SBY di Auditorium LIPI, lantai 2, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (15/8).

Menurutnya, semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tergantung dari pemimpinnya. Masih banyak persoalan yang perlu dicari solusi dengan kebijakan yang tepat.

Advertisement

"Jelas harus ada political will yang baik. Jadi kita butuh pemimpin yang dapat menghadirkan decision (keputusan) yang baik buat negara," terang SBY.

Salah satu persoalan yang disoroti SBY adalah ketimpangan antara si kaya dan miskin. Persoalan ini tidak hanya dialami Indonesia, tapi juga negara lain. Namun, Indonesia butuh kepemimpinan yang bisa meminimalisir jurang ketimpangan semakin lebar.

"Itu betul, tapi ketimpangan itu tidak hanya Indonesia, bahkan negara-negara yang ekonominya tumbuh pesat pun, dalam hal yang bersamaan tumbuh pula jurang perbedaan, jurang ketimpangan antara si miskin dan si kaya, itu buka unik milik Indonesia saja, semua negara pun ada," jelas SBY.

Advertisement

Ketua Umum Partai Demokrat ini mengingatkan pemerintah untuk peka terhadap persoalan ketimpangan kaya dan miskin. Jangan larut mengikuti mekanisme ekonomi global.

"Apa yang bisa dilakukan, I do not believe untuk serahkan pada pasar. Pasar itu tidak peka mana yang akan terus tumbuh kaya, mana yang akan terus merana dengan kemiskinan. Yang harus peka itu pemerintahnya bukan pasarnya. Karena yang tahu negaranya sendiri itu ya negaranya," terang SBY.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.