SBY ajak GP Ansor jaga NKRI dan perangi terorisme
"Saya ingin GP Ansor tetap berada di depan, memerangi gerakan-gerakan ekstrem, radikal, terorisme," kata SBY.
Pidato di depan kader GP Ansor di Harlah ke 80 Badan Otonom (Banom) NU di JX Internasional Jalan A Yani, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu malam (4/1), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak memerangi teroris yang meresahkan masyarakat.
"Izinkan saya, sebagai Presiden RI untuk menyampaikan ajakan dan harapan. Saya mengajak keluarga besar GP Ansor untuk menjadi benteng bagi Pancasila dan NKRI. Sejarah telah membuktikan, bahwa GP Ansor selalu berada di barisan depan mempertahankan NKRI dan ideologi bangsa yaitu Pancasila," kata SBY dalam pidatonya.
Presiden kelahiran Pacitan, Jawa Timur itu juga mengajak keluarga besar GP Ansor untuk menjadi pelopor bagi kerukunan masyarakat. "Teruslah menjadi pelopor bagi masyarakat yang rukun dan damai. Bangsa yang besar bukan bangsa yang tercerai berai, tapi menjaga toleransi dan kerukunan," pintanya.
Selain itu, presiden asal Partai Demokrat itu juga meminta GP Ansor berada di garda depan memerangi gerakan-gerakan ekstrem. "Saya ingin GP Ansor tetap berada di depan, memerangi gerakan-gerakan ekstrem, radikal, terorisme. Jagalah bumi nusantara ini dari aksi-aksi yang tidak bertanggung jawab dari gerakan ekstrem radikal terorisme. Jadikan Indonesia tempat yang teduh, nyaman sebagaimana yang diimpikan dan diharapkan para pendahulu kita," tegas dia.
Seperti diketahui, di Harlah yang ke-80 ini, GP Ansor menyoroti tiga masalah penting pasca-reformasi 1998, yaitu masalah kebhinekaan, korupsi dan kemiskinan.
"Padahal, sejarah telah memberikan kita sebuah keniscayaan kemajemukan dan kebhinekaan sebagai bingkai dari bangunan NKRI. Dan seharusnya kita hargai para pendahulu karena telah menanamkan pondasi kemajemukan itu," kata Nusron dalam pidatonya di hadapan SBY dan seluruh hadirin.(mdk/tyo)