Satwasnaker Tegaskan Budaya K3 Kunci Produktivitas dan Daya Saing Perusahaan
Kepala Satwasnaker Pati Setyo Pamungkas menekankan pentingnya Budaya K3 sebagai investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing perusahaan, bukan hanya seremonial tahunan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus menjadi kultur yang tidak bisa ditinggalkan dan menjadi bagian integral dalam setiap aktivitas perusahaan. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Satuan Pengawasan Ketenagakerjaan (Satwasnaker) Wilayah Pati, Setyo Pamungkas, saat penutupan Bulan K3 Nasional di lingkungan Pura Group Kudus, Jawa Tengah.
Peringatan Bulan K3 yang berlangsung setiap 12 Januari hingga 12 Februari diharapkan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama. Tujuannya adalah menjadikan K3 sebagai budaya kerja yang berkelanjutan di setiap lini usaha.
Pamungkas berharap, K3 menjadi penanda bahwa pekerja selalu mengingat pentingnya keselamatan sebagai suatu kultur yang tidak boleh ditinggalkan. Pemerintah juga hadir untuk memberikan dukungan dan motivasi agar pelaksanaan K3 tidak hanya dilakukan saat Bulan K3, tetapi diterapkan secara konsisten sepanjang tahun.
K3 sebagai Hak Pekerja dan Investasi Strategis
Pamungkas menekankan bahwa K3 merupakan bagian dari hak dasar pekerja dan pengusaha. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan serta fasilitas yang memadai untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Paradigma K3 kini telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya K3 sering dianggap sebagai beban biaya operasional, kini K3 dipandang sebagai investasi strategis yang mampu mendorong produktivitas dan daya saing perusahaan secara berkelanjutan.
Apresiasi diberikan kepada perusahaan yang telah melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala dan berbagai kegiatan internal yang bersifat kompetitif. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan semangat K3 di lingkungan kerja.
Penghargaan dan lomba internal menjadi motivasi positif agar budaya selamat dan sehat semakin mengakar di kalangan karyawan. Ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam membangun citra positif melalui budaya K3 yang kuat.
Tantangan dan Komitmen Penerapan Budaya K3
Data menunjukkan urgensi penerapan K3 secara konsisten. Di Jawa Tengah, selama tahun 2025, tercatat hampir 400 ribu kasus kecelakaan kerja, baik skala kecil maupun besar. Angka ini menjadi pengingat pentingnya upaya pencegahan yang berkelanjutan.
Di Pura Group sendiri, selama tahun 2025, tercatat 85 kasus kecelakaan kerja ringan dan dua kasus kebakaran kecil. Kondisi ini mendorong manajemen untuk terus meningkatkan pengawasan dan kesadaran karyawan terhadap pentingnya K3.
Manajemen Pura Group terus mendorong kolaborasi seluruh jajaran P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) untuk meningkatkan pengawasan. Peningkatan kesadaran karyawan terhadap pentingnya K3 menjadi fokus utama.
Pembangunan ekosistem ketenagakerjaan yang andal tidak hanya ditopang oleh regulasi yang baik, tetapi juga peningkatan pemahaman dan kesadaran seluruh pihak. Penerapan norma ketenagakerjaan secara profesional menjadi kunci utama.
Strategi Pura Group dalam Membangun Ekosistem K3
General Manager HR-GA Pura Group, Agung Subani, menyampaikan bahwa peringatan Bulan K3 Nasional 2026 mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal dan Kolaboratif”. Tema ini mencerminkan visi untuk K3 yang lebih komprehensif.
Salah satu kunci penting adalah membangun budaya K3 yang baik dan profesional. Dengan budaya K3 yang andal, angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat ditekan secara signifikan, sehingga produktivitas kerja dapat meningkat.
Berbagai upaya telah dilakukan Pura Group selama Bulan K3, di antaranya peninjauan ulang komitmen manajemen, pelatihan K3 bagi karyawan, pembentukan tim tanggap kebakaran (K1), serta simulasi kebakaran. Pemeriksaan kesehatan berkala sesuai risiko kerja dan pemeriksaan uji objek K3 juga dilaksanakan.
Keberhasilan program K3 membutuhkan kolaborasi dan sinergi yang kuat antara manajemen dan tenaga kerja. Ini tidak hanya menekan kerugian perusahaan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup serta daya saing nasional menuju pembangunan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews