Satu keluarga, begini tugas para pelaku ledakan bom di 3 gereja Surabaya
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap pelaku Dipta Novianto mendrop istri dan dua putrinya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna.
Pelaku bom bunuh di tiga gereja di Surabaya merupakan satu keluarga. Mereka terdiri dari ayah, ibu dan empat anak yakni dua laki-laki dan dua perempuan.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap pelaku Dipta Novianto mendrop istri dan dua putrinya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna.
"Sebelumnya dia drop istri. Yang Avanza di Jalan Arjuna itu," ungkap Kapolri di RS Bhayangkara, Surabaya, Minggu (13/5).
Di TKP tersebut, lanjut Kapolri, pelaku menggunakan bom yang diletakkan di dalam kendaraan.
"Ini ledakan yang terbesar dari ketiga lokasi," ungkapnya.
Tak lama kemudian, istri Dipta serta dua anaknya juga menyerang GKI Diponegoro.
Selanjutnya, di waktu yang berdekatan ledakan juga terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Pelaku merupakan anak laki-laki Dipta.
"Ketiga yang di Santa Maria itu juga dua orang laki-laki yang diduga putra dari Dipta, Yusuf dan Halim 16 tahun. Semua adalah bom bunuh diri," tuturnya.
"Kemudian bom yang di Katolik itu menggunakan bom yang dipangku. Kita belum paham jenis bomnya karena korban pecah. Tapi ini cukup besar karena dibawa dua orang dan menggunakan sepeda motor. jenis bomnya berbeda, jenis bahan peledaknya apa lagi diidentifikasi labfor."
Meski demikian ada kesamaan dalam aksi tersebut.
"Untuk yang dicurigai itu tiga tiganya (Ledakan) menggunakan bom yang diletakkan pada pinggang. Namanya bom pinggang," ungkapnya.
"Ini ciri-ciri yang sangat khas karena rusak di dada dan perut baik yang perempuan ibunya."
Baca juga:
Menengok dampak ekonomi akibat teror bom di 3 gereja di Surabaya
Kapolri ungkap motif pelaku bom Surabaya
Khawatir jadi lone wolf, 6 buronan teroris di Sumsel terus dipantau
Libatkan TNI dan BIN, Polri akan operasi bersama tangkap sel JAT dan JAD
Investor diminta tak ambil aksi berlebihan akibat teror bom Surabaya