Satgas Covid-19 Sebut PSBB DKI Pengaruhi Mobilitas Warga di Pulau Jawa
Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan, bahwa PSBB yang dilonggarkan Pemprov DKI Jakarta berpengaruh pada kenaikan mobilitas warga di Pulau Jawa.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan akan menerapkan kembali Pemberantasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti awal mulai Senin (14/9) mendatang. Langkah Anies pun menimbulkan pro kontra.
Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan, bahwa PSBB yang dilonggarkan Pemprov DKI Jakarta berpengaruh pada kenaikan mobilitas warga di Pulau Jawa. Ia menilai, pelonggaran mobilitas ini menjadi salah satu faktor penyebaran Virus Corona atau Covid-19 ke beberapa daerah lain di Pulau Jawa.
"Jadi rupanya efek dari mobilitas penduduk karena adanya PSBB Transisi di Jakarta ternyata memiliki efek ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Jadi kalau kita lihat dari kasus-kasusnya juga demikian pula," kata Wiku, di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Jumat (11/9).
Berdasarkan data, Wiku menyediakan per tanggal 10 September, kasus di Pulau Jawa dan Bali itu kontribusi terhadap jumlah kasus Corona nasional sebesar 64,18 persen.
"Ternyata mobilitas penduduk berkontribusi pada peningkatan kasus, kenyataannya masyarakat juga belum terbiasa menggunakan masker secara disiplin terus menerus, ini berkontribusi terhadap peningkatan kasus di Indonesia," tegasnya.
Zona Merah Bertambah
Dengan itu semua, Wiku mengatakan saat ini jumlah zona merah Covid-19 secara nasional juga bertambah dari 65 kabupaten/kota menjadi 70 kabupaten/kota. Kemudian zona oranye atau risiko sedang juga mengalami kenaikan dari 230 kabupaten kota menjadi 267 kabupaten kota.
Sementara, zona kuning atau risiko rendah mengalami penurunan dari 151 kabupaten/kota menjadi 114 kabupaten kota.
Seperti diketahui, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan kembali merilis jumlah pasien yang terpapar Virus Corona atau Covid-19. Pada Jumat (11/9) hingga pukul 12.00 WIB, jumlah pasien yang positif selama 24 jam bertambah 3.737 orang. Sehingga, secara akumulatif sejak kasus pertama saat ini total ada 210.940 orang.
Sementara itu 52.179 di antaranya dalam perawatan, 150.217 orang sembuh, dan 8.544 jiwa meninggal dunia.