Satgas Covid-19 Jelaskan Adanya Perbedaan Data Kematian Pemerintah Pusat dan Daerah
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI) mengatakan, data kasus Covid-19 yang disampaikan Satgas bersumber dari Kementerian Kesehatan. Sementara itu, data Covid-19 yang masuk ke Kementerian Kesehatan berasal dari dinas kesehatan di berbagai daerah.
Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengungkap, sejumlah alasan terjadinya perbedaan data kasus kematian Covid-19 antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini menjawab temuan LaporCovid-19 adanya selisih 16.000 data kematian Covid-19.
"Perbedaan data yang ada dapat terjadi karena beberapa hal misalnya keterlambatan input data akibat SDM di daerah yang terbatas," jelasnya kepada merdeka.com, Kamis (6/1).
Selain itu, ada keterbatasan sistem dengan load data berkapasitas besar. Kemudian, ada perbedaan sumber data kasus Covid-19 jika diolah oleh lembaga yang berbeda.
Baca juga:
WN Inggris Diduga Positif Omicron Sempat Menginap di Hotel Medan, Seluruh Staf Diswab
Pulang Liburan dari Turki, Ashanty Dikabarkan Positif Omicron
Terlepas dari keterbatasan yang ada, Wiku memastikan pemerintah berupaya agar kekurangan tersebut dapat ditanggulangi dengan perbaikan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi terkini, pemberdayaan SDM di daerah, juga edukasi kepada masyarakat terkait literasi data kesehatan.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI) mengatakan, data kasus Covid-19 yang disampaikan Satgas bersumber dari Kementerian Kesehatan. Sementara itu, data Covid-19 yang masuk ke Kementerian Kesehatan berasal dari dinas kesehatan di berbagai daerah.
"Raw datanya berasal dari pusat data di Kemenkes dengan sumber dari dinas kesehatan yang tersebar di berbagai daerah melalui sistem yang dirancang dapat interoperabel," katanya.
Temukan Perbedaan Data Kematian
Sebelumnya, komunitas pemantau penanganan Covid-19, LaporCovid-19 menemukan ada selisih 16.000 data kematian berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dengan data Provinsi.
Analis Data LaporCovid-19, Said Faiz Hibban mengatakan, berdasarkan akumulasi data per provinsi hingga 31 Desember 2021, jumlah kematian akibat Covid-19 mencapai 160.476 jiwa. Sedangkan menurut rilis Kemenkes/Satgas Covid-19 nasional pada tanggal yang sama, jumlah kematian positif Covid-19 adalah 144.094 jiwa.
"Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 16 ribu kematian yang tidak diumumkan oleh Kemenkes RI/Satgas Covid-19 nasional," katanya, Selasa (4/1).
(mdk/fik)