Saritem masih menggeliat di bulan puasa
Selama puasa waktu operasional Saritem sejak pukul 14.00 WIB hingga menjelang sahur.
Memasuki sepekan puasa, sejumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) di Lokalisasi Saritem Bandung, nyatanya masih menggeliat. Mereka memilih bertahan dan menjajakan tubuhnya untuk memuaskan hasrat pria hidung belang.
Padahal larangan lokalisasi ini bukan saja ketika bulan puasa, tapi pada bulan biasanya. Dengan adanya Perda Kota Bandung No 11/1995, efektif mulai November 2006 semua kompleks lokalisasi akan mulai dihapuskan.
Semua kegiatan lokalisasi Saritem akan diakhiri pada 17 April 2007 pukul 24.00 WIB dan Saritem akan ditutup pada 18 April 2007. Namun nyatanya? Lokalisasi ini masih saja membandel dan terus beroperasi.
Dalam pantauan merdeka.com, di bahu kiri sepanjang Jalan Saritem terdapat mulut gang. Tidak sulit mendapatkan tawaran dari sejumlah pria penyedia jasa wanita. Mereka menawarkan kepada setiap kendaraan yang melintas. Dalam kesempatan itu, merdeka.com tak luput dari perhatian pria yang sudah menanti pelanggan.
Pria berbadan tegap, dengan mengenakan jaket hitam itu bernama Wawan. Dia sengaja menghampiri. Dia saat itu menawarkan jasa wanita yang diinginkan kepada pelanggannya.
"A bade main? (Mas mau main)," kata Wawan menawarkan kepada merdeka.com saat ditemui di lokasi Sabtu (28/7) lalu.
Tanpa ragu dia pun memberikan pilihan wanita dengan ragam harga. "Ada yang Rp 150 ribu, Rp 200 ribu, Rp 250 ribu sampai yang Rp 500 ribu," terangnya.
Pria yang diperkirakan berusia sekitar 35 tahun ini pun tampak ramah. Dia mau melayani setiap pertanyaan yang dilayangkan. Saat disinggung keamanan selama bulan Ramadan dengan tegas dirinya bisa menjamin.
"Kalau Aa, lagi main terus ada yang gerebek, saya berani tanggung jawab. Dijamin aman," imbuhnya.
Dia mengaku tidak ada perbedaan aktivitas saat bulan puasa atau bulan-bulan biasanya. Hanya saja, intensitas dan jam operasional prostitusi yang ada sejak abad ke-19 ini sedikit berkurang.
"Kalau tutup kita nggak bisa hidup. Masih normal kok jam operasionalnya, cuma yang pelanggan berkurang drastis," jelasnya.
Pada saat puasa, Saritem mulai beroperasi sejak pukul 14.00 WIB hingga jelang sahur atau pukul 02.00 WIB. Hal itu berbeda dengan hari biasa yang mulai beroerasi sejak pukul 12.00 WIB hingga jelang Matahari terbit.
Pria yang menyediakan jasa wanita lebih dari 20 itu menambahkan, ketika Ramadan jumlah 'kupu-kupu' malam yang menjajakan cintanya di Saritem memang berkurang.
"Ya paling hanya 75 persennya yang beroperasi, sisanya pada pulang kampung," tandasnya.
Dalam kesempatan itu, merdeka.com mengitari rumah-rumah yang kerap dijadikan pemuas nafsu pria hidung belang. Beberapa wanita tampak menanti pelanggan. Mengenakan pakaian minim, mereka pun genit pada pria yang berseliweran di dalam gang tersebut.(mdk/lia)