LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Sambut Nyepi, Umat Hindu Dharma di Malang bakar genderuwo dan tuyul

Pembakaran ogoh-ogoh, kata Bambang, merupakan perwujudan dari Tawur Kesange atau penyucian Buana Agung.

2015-03-20 18:16:27
Hari Raya Nyepi
Advertisement

Ribuan umat Hindu Dharma Kota Malang dan sekitarnya mengarak ogoh-ogoh menyambut datangnya Hari Raya Nyepi yang jatuh Kamis (21/3) besok. Berbagai macam Buto, di antaranya genderuwo dan tuyul, diarak mengelilingi jalanan sebelum kemudian dibakar di Lapangan Rampal, Kota Malang. Upacara ini digelar sebelum memasuki hari introspeksi yang akan dimulai pukul 06.00 WIB besok.

"Pukul 06.00 WIB besok mulai Nyepi, tanpa makan dan minum. Tanpa bepergian, tanpa kegiatan. Melakukan perenungan diri," kata Bambang Astabrata, Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, di sela acara Jumat (20/3).

Arak-arakan dan pembakaran ogoh-ogoh, kata Bambang, merupakan perwujudan dari Tawur Kesange atau penyucian Buana Agung (alam semesta). Ogoh-ogoh disimbolkan sebagai penguasa kegelapan, nafsu angkara murka dan semua hal yang berkaitan dengan kejahatan dan ketidakadilan. Lewat Tawur Kesange alam disucikan agar tercapai keseimbangan.

Namun berdasarkan sejarah, pembakaran ogoh-ogoh memiliki kaitan dengan dimulainya tahun Saka.

"Kalau menurut awal ceritanya, Bangsa India diserang oleh Bangsa Saka karena ingin merebut perdagangan. Peristiwa itu bertepatan pada tahun 78 Masehi. Kemenangan Bangsa Saka ditetapkan sebagai tahun 1 Saka, yang saat itu menjadi kekalahan bagi Bangsa India (Hindu). Dari kekalahan itu terjadilah introspeksi," kisahnya.

Ogoh-ogoh bisa juga merupakan simbol-simbol kekalahan, tetapi kekalahan itu bukan berarti dendam. Kekalahan itu diperingati sebagai bentuk introspeksi diri.

Sebelumnya, umat Hindu di Malang juga menggelar Buana Alit (penyucian manusia) yang digelar di Pantai Balai Kambang. Buana Alit untuk menyucikan fisik manusia, dilanjutkan dengan Buana Alam dengan pembakaran ogoh-ogoh.

"Selesai menjalani Nyepi nanti, kemudian manusia akan 'Ngembak Geni' artinya kembali beraktivitas seperti semula. Rencananya dilakukan sembahyah di Candi Badut. Ngembak Geni diisi dengan acara Dharmasanti atau halal bihalal," urainya.

Putu Yulyana Grisnawati Artha, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang mengaku menjalani tapabrata selama perayaan Nyepi di Malang. Perayaan ini merupakan pembersihan hati sebelum nanti memasuki tahun baru Saka 1937.

"Biasanya dirayakan di kos-kosan, tidak pergi ke mana-mana agar bisa mendengarkan suara hati. Suara-suara sang adman. Semoga bisa lahir lebih baru," katanya.(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.