Rumahnya Dipakai Jadi Wahana Horor, Warga Cicadas Justru Dukung Desa Hantu
Salah satu warga yang terlibat langsung adalah Agung Rahman (53), warga Gang Banteng, Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kaler.
Sebuah gang sempit di kawasan Cicadas, Kota Bandung, mendadak ramai diperbincangkan publik berkat kreativitas warganya menyulap lingkungan mereka menjadi wahana bertema horor bernama Desa Hantu.
Alih-alih merasa terganggu, warga justru menunjukkan antusiasme tinggi terhadap inisiatif tersebut.
Salah satu warga yang terlibat langsung adalah Agung Rahman (53), warga Gang Banteng, Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kaler. Rumahnya berada tepat di jantung area wahana. Meski aktivitas keluar masuk rumahnya sedikit terganggu, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Menurut saya bagus buat masyarakat di sini untuk memajukan RW atau kelurahan ini, walaupun cuma gang di sini. Karena ini kreativitas anak muda," kata dia, Sabtu (2/8).
Menurut Agung, keberadaan wahana yang dibuka setiap malam pukul 19.00 sampai 20.00 WIB itu membawa dampak positif bagi lingkungan. Bukan hanya menjadi hiburan warga, tapi juga menunjukkan bahwa anak muda setempat bisa berkarya dengan cara yang menyenangkan dan jauh dari hal negatif.
"Mendukung kegiatan ini, daripada yang lain, misal obat-obatan atau apa, bagus begini," ujarnya.
Meski rumahnya menjadi bagian dari jalur utama wahana, ia mengaku tidak perlu mengosongkan ruangan. Hanya lampu teras yang biasanya dimatikan agar suasana horor tetap terasa, sementara bagian dalam rumah tetap aktif seperti biasa.
"Enggak dikosongin. Paling lampu teras dimatikan. Kalau yang di dalam enggak (dipadamkan), soalnya ada gorden. Jadi enggak langsung sinarnya keluar," kata dia.
Untuk urusan akses keluar masuk rumah selama wahana berlangsung, Agung mengatakan tak ada masalah besar. Jika ada keperluan mendesak, cukup sampaikan pada panitia, dan mereka akan membantu.
"Bisa, kalau darurat tinggal ngobrol ke panitianya," ujar dia.
Keluarganya pun turut mendukung, bahkan anaknya ikut menjadi bagian dari tim penyelenggara.
"Saya berempat di rumah. Kami enjoy aja. Anak juga ikut jadi enggak apa-apa," tambahnya.
Sebagai bagian dari Linmas, Agung juga membantu memastikan kegiatan berlangsung aman. Ia menyebut tiket masuk hanya dibanderol Rp5 ribu Pengunjung juga bisa menikmati permainan tambahan seperti tembak balon, serta mencicipi aneka jajanan yang tersedia di bazar sekitar.
Menariknya, hasil penjualan tiket dan bazar akan digunakan untuk mendukung perayaan HUT ke-80 RI di lingkungan RW setempat. Bila ada sisa dana, akan diserahkan ke karang taruna untuk kegiatan sosial berikutnya.
"Iya, hasil dari ini teh untuk perayaan Agustusan," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Aditya Rahman menjelaskan bahwa Desa Hantu akan digelar selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara 17 Agustusan yang dirancang oleh para pemuda di wilayah tersebut.
"Iya melibatkan semua warga di sini," katanya kepada wartawan, Jumat (1/8).
Konsep wahana ini terinspirasi dari rumah hantu yang biasa hadir saat Agustusan. Namun, alih-alih membuat satu rumah horor seperti umumnya, mereka menyulap seluruh gang menjadi 'desa' dengan suasana menyeramkan. Melibatkan sekitar 30 rumah, kegiatan ini mendapat restu dan dukungan dari warga.
"Kalau di tempat lain, RT atau RW lain, bikin rumah hantu nih, kita coba bikin apa yang beda, terbikinlah desa hantu, dibuatlah di satu gang," kata Aditya.
"Kalau yang lain mungkin cuma satu rumah, kita dibuat satu gang, perizinan ke warga juga Alhamdulillah warga juga mendukung, terjadilah seperti ini. Alhamdulillah tahun kemarin sampai viral ke mana-mana," jelas dia.