RSCM dan RS Harapan Kita tolak bocah tanpa lubang anus
Orangtua Ruslan yang cuma buruh serabutan itu cuma bisa mengelus dada kebingungan.
Buruknya pelayanan rumah sakit, kembali dialami warga kurang mampu. Kali ini, Toni (35) dan Arna (30), warga Jalan Cidongke, RT 3, RW 4 Kelurahan Penjamben, Kecamatan Carita, Banten terpaksa membawa kembali putra semata wayangnya, Ruslan (12) kembali ke rumah pamannya, Jack (32) di daerah Jakarta Timur.
Ruslan merupakan bocah yang tidak memiliki lubang anus. Sehari-harinya, siswa kelas 6 SD ini terpaksa mengeluarkan kotorannya melalui sebuah lubang pembuangan di pinggang kiri. Lubang tersebut sengaja dibuat untuk mempermudah pembuangan kotoran.
Setelah lebih dari 8 jam menanti di RSAB Harapan Kita, Ruslan terpaksa dibawa pulang setelah pihak Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita tidak bisa menyediakan ruang sementara untuk bocah yang masih duduk di kelas 6 SD tersebut.
"Tadi dibawa ke Ruang Kantil, kata petugas yang di sana, ruangan masih penuh. Tadi juga disuruh nunggu dulu," kata Toni, Kamis (21/2).
Sebelumnya, oleh petugas di Ruang Kantil, pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan itu diminta untuk menunggu. Dan untuk kejelasan dapat ruangnya atau belum, bisa dicek ke ruang Klinik Bedah Anak, Bedah Syaraf, dan Bedah Urologi yang berada di lantai dasar RSAB Harapan Kita.
Toni menceritakan, sebelum dibawa ke RSAB Harapan Kita, Ruslan terlebih dahulu dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo pada 12 Februari 2013. Namun di rumah sakit tersebut, petugas RSCM mengatakan ruang sudah penuh.
"Dibilang ruang sudah penuh, dan dibilang alatnya rusak, alat yang dari Jerman belum datang," tutur Toni.
Seusai keluar dari RSAB Harapan Kita, Toni masih berharap, Jumat besok, anaknya sudah dapat ruang, dan segera dapat dioperasi.(mdk/ian)