LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Ritual nyeleneh Mbah Sutarto topo pendem demi anak cucu

Mbah Sutarto membantah jika ada yang menganggapnya mencari ilmu hitam.

2014-12-11 05:33:00
Mitos
Advertisement

Sutarto (55), warga Kebaksari, Desa Kebak, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah, nekat mengubur diri selama 5 hari di pekarangan rumahnya. Aksi yang dia sebut sebagai topo ngluweng atau topo pendem tersebut dilakukan untuk mendoakan anak cucunya.

"Saya ingin berdoa supaya anak dan cucu saya bisa hidup bahagia dan sejahtera," ujar Sutarto, saat ditemui wartawan, Rabu (10/12).

Mbah Sutarto membantah jika ada yang menganggapnya mencari ilmu hitam. Kakek 2 anak dan 3 cucu ini menuturkan ia sengaja menggali tanah layaknya kuburan sedalam 1,25 meter. Di dalam kuburan itu dilapisi papan sepanjang 1,5 meter yang ia gunakan untuk semedi. Sedangkan setengah meter bagian atas ditimbun tanah. Sementara di pinggir liang lahat dipasang sebuah pipa pralon untuk ventilasi dan mensuplai telur dan minuman.

Lalu benarkah dengan melakukan topo pendem, anak cucu Sutarto bisa bahagia dan sejahtera? Lalu apa yang membuat Sutarto melakukan aksi topo pendem tersebut? Berikut kisahnya:

Jalani topo pendem, Sutarto ingin anak cucu bahagia

Warga Karanganyar, Solo dibuat terperanga oleh aksi Sutarto (55), warga Kebaksari, Desa Kebak, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah. Dia nekat mengubur diri selama 5 hari di pekarangan rumahnya.

Aksi yang dia sebut sebagai topo ngluweng atau topo pendem tersebut dilakukan untuk mendoakan anak cucunya agar selamat, bahagia dan sejahtera dunia akhirat

"Saya mulai topo pendem Kamis (4/12/2014) malam usai Maghrib atau pada malam Jumat Pon, dan menyudahi pertapaannya pada Selasa (9/12) malam.

Pada awalnya, Sutarto akan melakukan topo hingga 8 hari 8 malam. Namun karena anak dan tetangga memintanya keluar pada hari kelima. "Saya diminta keluar, takutnya saya lemas di dalam," katanya.

Advertisement

5 Hari tapa, Sutarto hanya makan 2 butir telur & air putih

Selama 5 hari melakukan ritual tapa pendhem (semedi di liang lahat), Sutarto mengaku hanya mengonsumsi 2 telur ayam dan sebotol air mineral. Satu butir ia makan saat masuk liang pada Jumat Pon (5/12) selepas Maghrib, sedangkan satu butir lagi dia makan pada hari ketiga atau Senin (8/12).

"Memang selama 5 hari itu, saya hanya makan 2 butir telur ayam rebus," jelas Sutarto saat ditemui wartawan, Rabu (10/12).

Pengakuan Surtarto tersebut juga diamini saudara dekatnya, Pujo Suwarno. Pria tersebut memang selalu mengawasi aksi nekat yang dilakukan Sutarto selama 5 hari di liang lahat.

"Dia itu hanya makan 2 telur ayam selama 5 hari tapa pendem. Dikasih air (air mineral) sebotol tanggung juga tidak dihabiskan," ujarnya.

Advertisement

Sutarto dapat wangsit dari Sunan Lawu dan Sunan Kalijaga

Menurut Pujo, Sutarto saat di dalam liang itu menjalani tirakat dan berpuasa. Dia mendoakan agar 2 anak dan 3 cucunya mendapatkan kebahagiaan, keselamatan serta kesejahteraan. Tak hanya di dunia tetapi juga di alam sana nanti.

Sutarto mengaku tak ciut nyalinya saat harus berada di liang lahat ukuran panjang 1,5 meter, lebar 1 meter dan kedalaman 2 meter. Dia mengemukakan, tetap berdoa dan melakukan tirakat meskipun berada di tempat gelap selama berhari-hari.

"Setelah akan selesai, Saya mendapat wangsit yang harus dilaksanakannya. Wangsit itu datang dalam bentuk kanjeng Sunan Lawu dan Sunan Kalijaga yang dating saat saya sedang khusyuk berdoa. Beliau berkata, saya akan menjadi pengayom warga di daerah ini kelak," pungkasnya.

Sutarto diganggu tengkorak dan bola api di liang lahat

Pada awalnya, Sutarto akan melakukan topo hingga 8 hari 8 malam, namun karena anak dan tetangga memintanya keluar pada hari ke lima. Mereka takut akan keselamatan Sutarto saat berada di liang lahat tersebut.

"Saya diminta keluar, takutnya saya lemas di dalam," katanya.

Saat bertapa, Sunarto mengaku sempat digoda sejumlah makhluk halus seperti banaspati (bola api) hingga tengkorak berjalan. Dia juga mengaku sempat didatangi oleh Sunan Lawu.

"Sunan Lawu datang dan berpakaian serba putih.Beliau bilang kalau saya nantinya dapat mengayomi desa ini (Desa Kebak), tinggal saya mau atau tidak," terangnya.

Sutarto sering tapa di puncak Gunung Lawu

Ritual topo pendhem yang menggegerkan warga tersebut, bukan kali pertama dilakukan Sutarto. Ia mengaku pernah melakukan hal yang sama belasan tahun lalu. Namun saat itu dia hanya mengubur dirinya selama 3 hari di pekarangan yang ada di samping rumah.

"Dulu sudah lama sekali saya pernah 3 hari topo ngluweng. Saya juga sering tirakat di puncak Gunung Lawu. Saat melakukan ritual itu, saya sesekali duduk kalau sudah capek. Kadang juga slonjor. Di dalam liang rasanya panas dan sumuk (gerah). Tapi harus saya lakoni (lakukan) demi mendoakan anak dan cucu, biar diberi keselamatan dan kebahagiaan," ujar Sutarto.

Meski telah 2 kali melakukan topo ngluweng dan sejumlah ritual lainnya, Sutarto tak ingin, keluarganya atau tetangga dan warga lainnya meniru aksinya tersebut. Bagi dia manusia memang memiliki cara sendiri untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.