Ridwan Kamil Soroti Masalah Distribusi Oksigen
Di sisi lain, sejumlah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) memutuskan untuk menutup ruang Instalasi atau Unit Gawat Darurat. (IGD/UGD). Permasalahannya adalah kekurangan sumber daya manusia.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menegaskan tidak ada kelangkaan tabung oksigen untuk keperluan kesehatan. Namun, ia menyoroti distribusi yang tidak merata di setiap daerah.
Pria yang akrab disapa Emil ini mencontohkan kasus di Kota Depok yang mengalami kelangkaan oksigen, namun ketersediaannya melimpah di Kota Bandung.
“Yang menjadi tantangan manajemen distribusi. Di Depok langka, di bandung melimpah. Sekarang dihitung, kalau bisa kita punya neraca manajemen oksigen dalam seminggu dua minggu ke depan,” katanya, Rabu (30/6).
“Pabriknya ada empat di Jabar, dua di Jateng, empat di Jatim. Jateng yang zona merahnya paling banyak atas nama kemanusiaan oksigennya kita suplai,” ia melanjutkan.
Indikator ketersediaan oksigen aman karena secara umum penggunaan oksigen untuk kesehatan angkanya di bawah 30 persen, mayoritas lainnya untuk industri. Sehingga neraca oksigen masih aman.
Ia pun mengimbau kepada pasien, khususnya warga yang terpapar Covid-19 dengan gejala rendah tidak berlomba membeli atau menimbun tabung oksigen. Semua harus memahami keperluan paling mendesak untuk rumah sakit.
“Yang ramai itu manajemen sirkulasi. Krisis di depok, seolah oksigen habis, padahal secara neraca aman jauh lebih dari cukup. Tinggal diatur distribusi (yang harus dibenahi),” tegasnya.
“Kalau yang isoman berasumsi sendiri untuk cadangan dan lain-lain, nanti menimbulkan kewalahan suplai untuk rumah sakit yang lebih darurat,” ujarnya.
IGD di sejumlah Rumah Sakit Ditutup Sementara
Di sisi lain, sejumlah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) memutuskan untuk menutup ruang Instalasi atau Unit Gawat Darurat. (IGD/UGD). Permasalahannya adalah kekurangan sumber daya manusia.
Beberapa rumah sakti yang memberlakukan kebijakan itu di antaranya RSUD Cibabat, Kota Cimahi dan RSUD Majalaya, Kabupaten Bandung.
Ridwan Kamil mengaku untuk mengurangi beban tenaga kesehatan, pihaknya sudah 400 orang relawan. Mereka didistribusikan ke fasilitas kesehatan yang mengalami kekurangan SDM.
“Kita juga akan merekrut tambahan. Kepada akademi poltekes dan lain-lain kita hubungi agar mereka bisa langsung kita kirim ke tempat yang membutuhkan. IGD ini pintu pertama dalam kedaruratan,” pungkasnya.
Baca juga:
Sudah Penuh, IGD RSUD Tidar Magelang Khusus Pasien Covid-19 Ditutup
Penjelasan RSUD Balaraja Tangerang soal Insiden Jenazah Covid-19 Tertukar
41 Warga Positif Covid-19 di Sleman Meninggal saat Jalani Isolasi Mandiri
Berlaku Mulai 3-20 Juli 2021, Ini Daerah Bakal Kena PPKM Darurat
Tes Covid-19 RT Lamp Saliva, Tanpa Colok Hidung Akurasi Lebih Baik dari Antigen
Pemkab Bogor Minta Kemenkes Segera Cairkan Klaim Rumah Sakit Tangani Pasien Covid-19