Ribut soal Raja Gowa, polisi amankan benda-benda pusaka
Polda Sulawesi Selatan menegaskan benda-benda pusaka di Kabupaten Gowa yang tersimpan di Balla Lompoa (rumah besar) tidak boleh disentuh siapa pun. Larangan ini lantaran benda itu berstatus quo.
Polda Sulawesi Selatan menegaskan benda-benda pusaka di Kabupaten Gowa yang tersimpan di Balla Lompoa (rumah besar) tidak boleh disentuh siapa pun. Larangan ini lantaran benda itu berstatus quo.
Penegasan ini dikeluarkan lantaran kerabat keturunan Raja Gowa dan Pemkab Gowa tengah berseteru. Keduanya mengklaim paling berhak atas benda-benda pusaka tersebut.
Kapolda Sulsel, Irjen Polisi Anton Charliyan menjelaskan, hingga saat ini penyelidikan masih berlanjut. Saksi dari kedua belah pihak masih dilakukan pemeriksaan. Kepolisian juga sudah membentuk tim penyidik untuk kedua belah berseteru ini.
"Karena masing-masing pihak telah menindaklanjuti ke ranah hukum, maka percayakanlah ke Polri untuk menanganinya dan Polri pun akan bersikap adil, netral. Lalu benda-benda pusaka itu kini dalam tanggung jawab Polri," kata Anton, Jumat (16/9)
"Benda-benda pusaka itu kini status quo, tidak ada yang boleh menyentuhnya. Akan dijaga polisi hingga situasi kembali kondusif," kata Irjen Polisi Anton Charliyan.
Seperti diketahui, Andi Maddusila Karaeng Idjo atas nama keturunan Raja Gowa melapor ke Polda Sulsel beberapa waktu lalu terkait pengrusakan benda-benda pusaka di istana Balla Lompoa. Dia melaporkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa. Sebelumnya, Pemkab Gowa lebih dulu melaporkan kerabat kerajaan itu soal hilangnya permata pada Salokoa atau mahkota raja yang merupakan aset daerah.
Kejadian selanjutnya, Bupati Gowa, Adnan Purictha Ichsan Yasin Limpo dilantik sebagai ketua Lembaga Adat Daerah (LAD), Kamis, (8/9) oleh DPRD Gowa untuk menjalankan peran dan fungsi sebagai Sombayya (orang yang disembah).
Tak pelak, situasi tambah memanas di Kabupaten Gowa karena pelantikan ini langsung menuai protes dari keturunan, kerabat Raja Gowa ke 37, Andi Maddusila Karaeng Idjo. Dianggapnya, jika menyebut diri Sombayya berarti Bupati Gowa yang tidak lain adalah keponakan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo itu melantik dirinya sebagai raja.(mdk/ang)