Rekam jejak pasutri di Benhil yang ditemukan tewas di Purbalingga
Iwan mengaku bersama Gilang mendatangi rumah tersebut. Dia menuturkan, pada saat pintu dibuka, situasi dan kondisi di dalam terlihat rapih selayaknya rumah pada umumnya.
Pasutri bernama Husni Zarkasih (57 tahun) dan Zakiyah (52 tahun) yang beralamat di Jalan Pengairan no 21, RT 11/06, Kelurahan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, ditemukan tewas mengenaskan di Purbalingga. Ketua RT 11, Iwan (51) mengaku didatangi petugas untuk mengecek data korban.
"Ada satu polisi dateng ke rumah saya, buat nanya sama mastiin korban itu warga di sini apa bukan, ya sekitar jam 10-an lah. Terus dikasih lihat datanya sama fotonya, foto yg ada di KTPnya ternyata bener, iya bener," ujar Iwan saat ditemui di rumahnya, Jalan Tondano, Jakarta Pusat, Selasa (12/9).
Iwan mengatakan, dirinya menyuruh salah satu warganya mendatangi toko milik Gilang untuk meminta nomor ponsel guna memberitahu peristiwa yang menimpa orangtuanya ke anak pertama korban tersebut. Kebetulan, Gilang ada di tokonya tersebut.
"Ada salah satu warga saya yang dateng ke tokonya si Gilang. Tadinya mau minta nomor hp nya tapi ternyata kebetulan ada dia (Gilang) di sana, yaudah kita kasih tahu suruh ke rumah. Kita enggak kasih tahu kejadian apa langsung ke dia, tunggu dia sampe di tempat, tunggu dia tenang baru saya kasih tahu ada apa-apanya," ucapnya.
Iwan mengaku bersama Gilang mendatangi rumah tersebut. Dia menuturkan, pada saat pintu dibuka, situasi dan kondisi di dalam terlihat rapih selayaknya rumah pada umumnya. Tidak ada barang yang porak poranda tampak berantakan. Namun jika dicermati secara teliti terdapat bercak bercak darah menyerupai cipratan air.
"Pas dibuka di ruang keluarga tempat nonton TV rapih-rapih aja ya, enggak berantakan kondisi biasa, cuma ada sedikit cipratan entah darah atau bukan. Takutnya itu darah ganggu pemeriksaan yaudah saya mundur. Yang saya bilang tadi kayak titik-titik pasir di dinding, kalo menurut polisi ya mungkin bercak darah," lanjutnya.
Setelah dilakukannya pemeriksaan oleh pihak kepolisian, ada beberapa barang milik korban yang hilang. Diantaranya emas dan juga sertifikat tanah serta mobil Corolla Altis dengan nomor pol B 2171 SBE. Mobil tersebut yang diduga dibawa oleh pelaku untuk mengangkut korban.
"Mobil corolla altis milik korban terekam tiga kamera cctv yang berada di dua rumah tetangga korban. Rumah tersebut yaitu di jalan pengairan no 1 rumah dari bapak Sahid dengan dua kamera cctv dan rumah ke dua dijalan pengairan no 26 dengan satu camera cctv yang merupakan sebuah kost-kostan," jelas dia.
Kini ketiga data cctv tersebut telah diambil oleh pihak kepolisian guna penyelidikan lebih lanjut. Saat ditanya mengenai sosok mantan supir yang pernah bekerja untuk almarhum, iwan mengaku tidak mengetahuinya.
"Enggak tau, enggak kenal saya, setau saya pak Husni enggak punya supir. Pokoknya yang saya tahu yang jelas anak buahnya. Karena beliau ini ya paling kalau enggak dianter ama anak, nyupir sendiri. Kalo ada urusan kantor sama urusan pribadi juga nyetir sendiri," jelasnya.
Saat ditanya mengenai tempat tinggal kedua almarhum sebelum menempati rumah tersebut, Iwan juga tidak dapat memastikannya. "Ada yang bilang di Karet, ada yang bilang di Kreo yang sekarang ditempatin sama anak pertamanya (Gilang)," jelas dia.
Salah satu tetangga korban, Fita mengatakan kedua almarhum memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama bernama Azhar Gilang Prasetya. Gilang merupakan anak pertama dari kedua almarhum saat ini sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak laki-laki. Gilang juga ikut terjun dalam bisnis garmen milik almarhum orangtuanya. Sebelum terjun di dunia bisnis, Gilang sempat bekerja di bank.
Anak kedua bernama Rizki Suci Malida yang diketahui telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak perempuan. Sang suami juga memiliki bisnis di Tanah Abang.
"Sebelum ikut usaha bapaknya, dia (Gilang) dulu kerjanya di bank. Kurang tahu berapa lama tapi pernah kerja di bank sama uci (anak ke dua dari almarhum) juga pernah bekerja di bank," ucap Fita.
"Kalo si uci si gatau, tapi kalo suaminya juga dagang di Tanah Abang punya usaha juga di sana," lanjutnya.
Anak ke tiga bernama Putri Fatimatus Zahra. Putri merupakan lulusan sarjana kedokteran Universitas Indonesia, dan telah dikaruniai satu anak laki-laki. Setelah lulus kuliah, putri kerap kali melakukan praktik di salah satu klinik gigi di daerah Kebon Kacang Jakarta Pusat. Namun saat ini putri sedang menempuh studi S-2 nya bersama sang suami di Inggris.
"Dari tahun 2016 dia kuliah di Inggris ambil S-2 apalah namanya gak tau saya. Dulu waktu abis lulus S-1 itu dia suka praktek gigi di daerah Kebon Kacang," ucap fita.
Dan yang terakhir anak keempatnya bernama Dimas Adib Karomi yang saat ini sedang menempuh study S-1nya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Semarang.
"Kalo dimas dia lulus SMA tahun 2013 terus kuliah di Semarang sekarang," lanjut Fita menjelaskan.
Anak-anak korban kerap mengunjungi kedua orangtuanya sebulan sekali bahkan satu minggu sekali. "Kalo anaknya si yang ke dua sama pertama kadang sebulan sekali kesini, kadang juga seminggu sekali," tutur dia.(mdk/ded)