Ratusan warga Belitung dilarang menyaksikan gerhana matahari
Larangan keluar menyaksikan gerhana ini wajib ditaati tanpa kecuali.
Setelah melewati jalanan berkelok-kelok menyusuri tepi Pantai Tanah Tinggi, Kabupaten Belitung, kita akan menjumpai jalanan lurus yang perlahan menanjak disertai hamparan kebun sawit di setiap tepinya. Sekitar 7 kilometer, tiba-tiba bertebaran pura tempat ibadah. Janur-janur upakara melengkung di kanan-kiri jalan. Orang yang tak familiar akan membatin, sebenarnya sedang di Belitung atau Bali?
Di dusun sangat bernuansa Hindu itu, dinamai Dusun Balitung, tinggal para transmigran asal Pulau Dewata. Dusun unik ini berada di bawah naungan Desa Pelepak Pute. Warga beragama Hindu menjadi mayoritas di sana, terdiri atas 230 KK atau setara 731 orang. Mereka bermukim di Belitung sejak 1991 atas prakarsa pemerintah Orde Baru. Kebanyakan bekerja sebagai petani penggarap lahan sawit.
Warga Hindu turut bergembira mengetahui Belitung dilewati oleh Gerhana Matahari Total pada 9 Maret. Namun, saat terjadinya gerhana bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.
Pemangku Adat Balitung, I Nengah Oka (48), mengatakan warga Hindu tidak bisa ikut menikmati anugerah alam berupa gerhana yang diburu ribuan turis domestik maupun mancanegara.
"Kami tanggal sembilan sejak pukul 06.30 sampai 24 jam berikutnya, sudah harus berdiam di rumah, seperti lazimnya Nyepi di kampung halaman Bali," ujarnya kepada merdeka.com saat sedang istirahat selepas menjalankan ibadah pagi, Selasa (8/3). Pengecualian keluar rumah diberikan hanya untuk warga yang mengalami masalah mendesak, terutama persoalan kesehatan mendadak.
Larangan keluar menyaksikan gerhana ini wajib ditaati tanpa kecuali. Walau jauh dari tanah leluhur, para transmigran ini tidak ingin melupakan ajaran yang mereka imani. "Kalau kami melanggar, sia-sia ibadah kami setahun terakhir," kata Nengah. Sebagai kompromi, warga setempat akan melihat rekaman gerhana saja setelah Nyepi berakhir.
"Entah ini cobaan atau apa dari sang maha kuasa, tapi memang kami juga belum lama menyadari, Nyepi bertepatan dengan lewatnya gerhana," imbuhnya sambil tersenyum. Nengah mengaku sebetunya ingin melihat langsung gerhana total. Apalagi desanya termasuk lokasi ideal buat memantau fenomena alam tersebut.
Pria yang dulunya tinggal di Karangsem ini mengatakan warganya sepekan lalu turut bekerja bakti mempersiapkan lokasi pemantauan gerhana di Bukit Batu Titi. Bukit berbatu berjarak 2 kilometer dari Desa Pelepak Pute ini menjadi salah satu dari 12 titik pengamatan gerhana yang disiapkan pemkab.
Namun fokus utama warga yang utama tetaplah persiapan Nyepi. Penganut Hindu di Belitung berupaya mempertahankan pelbagai ritus sembahyang, termasuk mengarak Ogoh-Ogoh menjelang maghrib, menuju Bukit Titi. Warga Balitung, tua-muda, akan ikut mengarak boneka raksasa itu pada Selasa (8/3) malam.
"Hampir semua kelengkapan upacara sebelum Nyepi kami siapkan. Hanya memang barang yang susah didapatkan, kami sedikit ganti. Misalnya daging itik yang harusnya jadi sesajen utama, kami buat lebih banyak daging ayamnya. Itik susah dicari di Belitung," kata Nengah.
Saat merdeka.com pamit, Nengah pun bersiap masuk untuk berganti pakaian. Dia akan memimpin ibadah penting sebelum Nyepi.
Gerhana, yang entah kapan bisa menyapa Dusun Balitung lagi, terpaksa dinikmati esok lusa dari televisi.
Baca juga:
Ketimbang lihat gerhana, tokoh Hindu imbau umatnya fokus Nyepi
Hari Raya Nyepi, umat Hindu ajak masyarakat merenung bersama
Hormati Nyepi, Bandara Soekarno-Hatta tutup penerbangan ke Bali
Jokowi kemungkinan batal datang, warga Belitung kecewa
Mau nonton gerhana, tak perlu datang langsung, cukup buka internet
Intip kesiapan lokasi pemantau Gerhana Matahari Total di Aceh