LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Ragam tradisi unik di Bali usai perayaan Nyepi

Tradisi yang dilakukan pun memiliki tujuan luhur. Untuk menjauhkan diri dari malapetaka.

2016-03-17 06:36:00
Tradisi Unik
Advertisement

Berbagai tradisi maupun ritual dilakukan umat Hindu di Bali usai perayaan Hari Raya Nyepi. Mulai dari bocah, remaja hingga orang tua turut serta dalam kegiatan tersebut.

Tradisi yang dilakukan pun memiliki tujuan luhur. Untuk menjauhkan diri dari malapetaka maupun perangai buruk.

Rangkaian tradisi maupun ritual ini dilakukan sehari setelah Nyepi, dan berakhir beberapa hari setelahnya.

Advertisement

Berikut ulasan merdeka.com:

Tradisi Omed-omedan atau ciuman massal

Tradisi Omed-omedan dilakukan sehari setelah Nyepi. Seperti yang terlihat di Banjar Kaja, Jalan Sesetan, Denpasar, Kamis (10/3). Menjelang sore seluruh muda mudi yang belum menikah sudah bersiap di banjar. Seperti biasa Sekaa Taruna Satya Dharma Kerti wajib melaksanakan tradisi Omed-omedan, yang digelar setiap tahun sehari usai Nyepi.

Advertisement

Dalam tradisi ini, lelaki dan wanita dipisah, mereka lantas berebut berciuman. Hingga selanjutnya disiram atau diguyur air saat dua pasangan ini berpelukan.

Tradisi Omed-omedan diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 dan terus berlangsung hingga saat ini. Sekali waktu di masa lalu, tradisi ini pernah ditiadakan. Tiba-tiba di tengah desa muncul dua ekor babi hutan yang saling bertarung.

Masyarakat Desa Sesetan menganggap hal tersebut sebagai pertanda buruk. Melihat pertanda ini, sesepuh desa segera memanggil kembali para muda-mudi untuk berkumpul dan menyelenggarakan Omed-omedan seperti biasa. Setelah kejadian itu, tradisi ini terus diadakan secara rutin sebagai upaya agar desa terhindar dari malapetaka.

Ketua Sekaa Taruna Satya Dharma Kerthi Komang Arya, pelaksanaan kegiatan Omed-omedan melibatkan sekaa teruna teruni atau pemuda-pemudi yang berumur 17 hingga 30 tahun dan belum menikah.

Prosesi Omed-omedan dimulai dengan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan dan kelancaran pelaksanaannya. Usai sembahyang, peserta dibagi dalam dua kelompok; laki-laki dan perempuan.

Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh memberikan aba-aba, kedua kelompok saling berhadapan. begitu dekat, mereka akan berciuman beberapa saat hingga ditarik atau disiram air oleh tetua desa untuk melepaskan ciuman.

"Kami berharap agar tradisi ini dapat terus dilestarikan dan generasi muda semakin berkreasi lagi," kata Komang Arya, Kamis (10/3).

Lanjutnya, untuk lebih memeriahkan acara tersebut maka digelar juga pasar rakyat atau yang lebih dikenal dengan peken paiketan Krama Sesetan yang terdiri dari food heritage, home industry atau kerajinan yang diikuti sebanyak 140 stand serta menampilkan beberapa parade seni dan band.

Tradisi Mebuug-buugan atau perang lumpur

Tradisi perang lumpur ini juga dilakukan sehari setelah Nyepi. Seperti yang terlihat di Desa Kedonganan, Denpasar (10/3). Warga berbasah-basahan dan saling melempar lumpur.

Tradisi perang lumpur ini bertujuan menetralkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia.

Tradisi Mebuug-buugan yang mayoritas diikuti oleh kaum laki-laki ini baru kembali digelar, setelah 60 tahun tidak dilakukan.

Ritual Ngerebeg, bocah dan remaja berdandan ala raksasa

Ngerebeg merupakan ritual yang bertujuan untuk mengusir segala sifat setan yang ada dalam diri manusia. Para peserta yang terdiri dari bocah dan remaja berdandan menyerupai wong samar atau raksasa, dan berkeliling kampung. Seperti yang terjadi di Desa Tegalalang, Gianyar Bali.

"Anak-anak mencoba mengekpresikan sebuah keburukan sebagai akibat perbuatan gelap manusia yang terjabarkan dalam Sad Ripu, yakni enam musuh yang ada di dalam diri manusia," ungkap Gusti Mangku Lingsir Duur Bingin, Rabu (16/3).

Dari keyakinan masyarakat setempat, di antara anak-anak itu akan ada kehadiran wong samar. Diyakini pula wong samar merasuki anak-anak, sehingga harus diberlakukan istimewa.

"Hal ini dibuktikan saat disajikan santap siang bersama yang disebut katuran pica, anak-anak ini terus minta nambah, padahal sajiannya sudah melebihi porsi orang dewasa," jelas Mangku Lingsir.

Bendesa Desa Pakraman Tegallalang, I Made Jaya Kusuma menyebutkan dari tampilan anak-anak ini, setidaknya telah mewakili niat kesadaran. Bahwa, anak-anak yang masih diselimuti stabil, akan selalu dibayangi akibat buruk. Gambaran ini secara tidak langsung disosialisasikan dari konvoi keliling desa.

"Start di Pura Duur Bingin, anak-anak yang berjumlah ratusan ini, mengelilingi desa dengan membawa hiasan bunga yang disebut Gerebeg," terangnya.

Tradisi ngerebeg, lanjutnya dilaksanakan secara turun temurun serangkaian upacara di pura setempat. Saat berkeliling desa, peserta dihaturkan sesajen di tiap-tiang pura dan kuburan yang dilewati.

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.