Radio, cara Prof Johannes melawan propaganda Belanda
Prof Herman Johannes diberi gelar Pahlawan Nasional pada 2009.
Keahlian Prof Herman Johannes dalam bidang teknik memang tak perlu diragukan lagi. Selain membuat bom dalam perang revolusi kemerdekaan, dosen teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) juga mahir membuat perangkat radio.
Dalam Doorstoot Naar Djokja, Prof Johannes, yang diberi pangkat mayor karena ikut perang gerilya, berhasil merancang pemancar radio darurat, yang mengudara dari daerah Gading, Gunung Kidul.
Sebagaimana fungsi radio dalam perang, alat komunikasi yang diciptakan sang profesor itu juga digunakan untuk melawan propaganda musuh. Pahlawan nasional ini kerap dengan sengaja memakai bahasa daerahnya, NTT, untuk melawan propaganda Belanda, bahwa hanya orang-orang Jawa yang ingin merdeka.
Dalam setiap siarannya di radio, Prof Johannes selalu mengawalinya dengan kalimat, "Au Ir Johannes, au kokolak emineme Djokja, mai neme Republik Indonesia (saya Ir Johannes, berbicara kepada saudara-saudara dari Djokja, Ibu Kota Republik Indonesia),"
Saat Agresi Militer Belanda II 1948, Prof Johannes memang belum bergelar profesor. Saat itu dia 'baru' insinyur yang menjadi dosen Sekolah Tinggi Teknik (STT), kini adalah Fakultas Teknik UGM.
Baru pada tahun 1962, dia dipilih Soekarno menjadi rektor UGM. Jabatan rektor untuk Herman kali itu menjadi sejarah karena akhirnya universitas di Yogyakarta itu mempunyai orang nomor satu yang bukan dari Jawa.
"Itu sangat revolusioner," ujar Gorma Hutajulu, seorang aktivis mahasiswa UGM kala itu.
Hutajulu bercerita Prof Johannes sebenarnya tidak tertarik dengan politik atau pun jabatan. Keputusannya menjadi rektor adalah berkat dorongan sejumlah kalangan mahasiswa dan dosen di UGM.
Prof Johannes lahir di Rote, NTT, pada 28 Mei 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Oktober 1992 pada umur 80 tahun. Hari ini, Senin (28/5), adalah seratus tahun hari lahir Prof Johannes, suami dari Annie Marie Gilbertine Amalo dan ayah dari Helmi Johannes, presenter berita televisi di VOA.(mdk/ren)