PWNU Jatim minta rekrutmen polisi di Sumenep dibatalkan
Polres Sumenep yang menolak alumni pesantren untuk mendaftar anggota Polri, mengindikasikan masih ada diskriminasi.
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, minta Kapolri, Jendral Polisi Timur Pradopo untuk segera membatalkan hasil rekruitmen Bintara Brimob dan Dalmas di Polres Sumenep, Madura, yang dianggap sangat diskriminatif. Ini terlihat dengan penolakan siswa Madrasah Annuqayah 2 Sumenep yang ingin mendaftar polisi tahun angkatan 2012.
"Rekruitmen ini sangat menciderai masyarakat pesantren. Kami minta Kapolri untuk membatalkan rekruitmen itu dan melakukan rekruitmen ulang," kata Ketua PWNU Jawa Timur KH Muttawakkil Alallah ditemui di Kantor PWNU Jatim, Kamis (19/7).
Menurut pengasuh Ponpes Genggong Probolinggo ini, sikap Polres Sumenep yang menolak alumni pesantren untuk mendaftar sebagai anggota Polri, mengindikasikan masih kuatnya diskriminasi dalam korps kepolisian terhadap alumni pesantren.
Jika tidak segera diambil tindakkan tegas, lanjut dia, dikhawatirkan akan berlanjut ke sejumlah pesantren lainnya.
“Terlebih lagi, di Jawa Timur ada ribuan pesantren yang bakal mengalami nasib serupa seperti alumni Madrasah Aliyah 2 An Nuqayah, Guluk-guluk, Sumenep. Kami akan meminta Kemendiknas dan Kemenag serta Kapolda Jatim untuk melakukan upaya-upaya penyelesaian persoalan ini."
Seperti diketahui, pada Selasa lalu, Ribuan alumni Pondok Pesantren Annuqayah dan beberapa pondok pesantren lain di Sumenep, mengepung Mapolresta Sumenep. Mereka meminta pihak kepolisian untuk menjelaskan secara terbuka soal ditolaknya siswa Madrasah Annuqayah yang mendaftar polisi tahun angkatan 2012. Aksi itupun berakhir ricuh, para pengunjuk rasa melempari petugas yang berjaga di Mapolres Sumenep dengan batu.
Kapolres Sumenep, AKBP Dirin, didampingi sejumlah perwira Polda Jatim, secara terbuka di depan massa akhirnya meminta maaf atas apa yang disebutnya kesalahpahaman itu.(mdk/hhw)