Putra Bung Karno: Sebutan Orde Lama penghinaan
Indonesia di bawah Soekarno justru Nefo (New Emerging Forces) yakni negara-negara progresif revolusioner.
Putra bungsu Presiden Soekarno , Guruh Soekarno putra, tidak hanya menyebut Orde Baru yang dipimpin Soeharto sebagai hasil kudeta. Dia juga menilai penyebutan Orde Lama yang dipimpin Soekarno oleh Soeharto adalah bentuk penghinaan.
"Istilah Orla (Orde Lama) adalah kata-kata penghinaan penzaliman bapak bangsa RI," cetus Guruh dalam peringatan Harlah ke-112 Bung Karno di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (6/6).
Oleh karena itu, kata Guruh, jika ada orang yang mendongeng tentang berdirinya pemerintahan Orde Baru pada 1967. "Ceritakan itu pemerintahan hasil kudeta yang merata," cetusnya.
Dia menegaskan, Indonesia di bawah pemerintahan Bung Karno bukanlah Orde Lama. Tetapi Nefo (New Emerging Forces) yakni negara-negara progresif revolusioner, yang melawan Oldefo (Old Established Forces) atau negara-negara kapitalis yang neokolonialis dan imperialis (Nekolim).
"Indonesia lawannya bangsa penjajah yang imperialis," ujarnya.
Menurut Guruh, pelurusan sebutan itu merupakan hal yang remeh tapi penting. "Meluruskan sejarah. Akronim Jas Merah ini diambil judul pidato terakhir 1966. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Never leave history," kata Guruh.
(mdk/ren)