Puti menangis saat mengenang perjuangan Fatmawati
Calon Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno meneteskan air mata, saat berpidato di hadapan ratusan kader PDI Perjuangan dalam rapat kerja cabang khusus (Rakercabsus) di Madiun Kota, Senin (5/2).
Calon Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno meneteskan air mata, saat berpidato di hadapan ratusan kader PDI Perjuangan dalam rapat kerja cabang khusus (Rakercabsus) di Madiun Kota, Senin (5/2).
Puti menangis mengenang saat-saat tinggal satu rumah bersama sang nenek. Saat kecil, Puti lebih banyak waktunya tinggal bersama Fatmawati. Sampai-sampai ia memanggil neneknya dengan sebutan ibu.
Saking lamanya, Puti pun tak bisa melupakan kenangan bersama Ibu Fatmawati. Karena setiap melihat kisah hidup dalam sebuah video, ia pun terisak tangisnya. Saat berpidato di hadapan kader PDIP berulangkali ia mengusap air matanya dengan tisu.
Menyedihkan lagi di waktu pidato dan kunjungannya ke Madiun ini bertepatan dengan tanggal lahir neneknya, yakni 5 Februari.
"Ini kebetulan kok pas, sesuai dengan hati nurani. Ibu (panggilan Puti ke Fatmawati) mengarahkan saya kalau harus di Madiun," kata Puti di hadapan kader PDI Perjuangan.
95 tahun Fatmawati ©2018 Merdeka.com
Dia menjelaskan, 5 Februari merupakan hari kelahiran Ibu Fatmawati. Sekarang sudah berusia 95 tahun. "Ada yang tidak bisa dilupakan, yakni saat masa kecilnya dulu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga.
Kata Puti, ibu Fatmawati selalu mengajarkan tentang sejarah, budaya, keberadaban, agama, kepada anak-anaknya juga cucunya. Bahkan, juga harus berani bertanya, dan kritis.
Puti juga mengenang saat proses pembuatan bendera merah putih. Bahwa warna putih melambangkan kesucian, dan merah melambangkan perjuangan.
"Ibu Fatmawati adalah sosok prajurit, yang gigih menjahit bendera merah putih. Dan itu tidak boleh dilupakan," kata Puti yang mengisahkan hidupnya saat masih kecil bersama Ibu Fatmawati.
Dengan mengisahkan hidupnya, semasa kecil bersama neneknya, lagi-lagi putri tunggal dari Guntur Soekarno Putra dan Henny Emilia Hendayani tidak kuat menahan hati emosinya ketika berorasi politiknya mengenalkan sejarah.
Bung Karno banyak melewati hidupnya dari Jawa Timur. Mulai dari lahirnya di Surabaya, menempa ilmu pendidikan, hingga meninggal dimakamkan di Blitar.
"Saya minta maaf, tidak banyak berkata apa-apa. Saya merasa keduanya, kakek Bung Karno dan Ibu Fatmawati berada di sini (Madiun)," kata Puti Guntur Soekarno diujung acara.
(mdk/paw)