Puluhan Keluarga Terdampak Banjir di Lombok Barat
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menyampaikan banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas ringan hingga lebat pada pukul 23.30 waktu setempat.
Banjir melanda wilayah Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada Selasa (11/1). Banjir mengakibatkan 65 KK warga Desa Sengigi, Kecamatan Batu Layar, terdampak.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menyampaikan banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas ringan hingga lebat pada pukul 23.30 waktu setempat.
"Hujan ini menyebabkan banjir dan potensi tanah longsor. Banjir mengakibatkan 65 KK terdampak," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (13/1).
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat melaporkan saat hujan lebat terjadi, sebanyak 5 KK mengungsi. Mereka menghindari potensi longsoran di sekitar rumah.
Data sementara, tidak ada korban jiwa atau pun luka-luka akibat banjir. Sedangkan kerugian material, tercatat ruas jalan pada 7 titik dengan total panjang 200 meter mengalami kerusakan.
BPBD Kabupaten Lombok dibantu TNI, Polri, Basarnas, dinas pekerjaan umum dan penataan ruang, PMI dan Tagana bersiap siaga di lokasi terdampak untuk membantu para warga. Warga yang terdampak dan mengungsi mendapatkan bantuan sembako dari BPBD.
Berdasarkan prakiraan cuaca, pada hari ini dan esok (14/1), Kecamatan Batu Layar masih berpeluang hujan dengan intensitas ringan. Namun secara umum pada hari ini Provinsi Nusa Tenggara Barat berpeluang hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.
Kecamatan Batu Layar termasuk salah satu dari 10 kecamatan di Kabupaten Lombok Barat yang berpotensi bahaya banjir dengan kategori sedang hingga tinggi.
Melihat potensi gerakan tanah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengidentifikasi wilayah Kecamatan Batu Layar pada Januari 2022 ini memiliki potensi menengah hingga tinggi. Pada kecamatan lain, seperti Gunungsari dan Kediri, wilayah ini berpotensi gerakan tanah menengah hingga tinggi serta berpotensi banjir bandang.
Abdul mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi bahaya hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang. Berbagai upaya pencegahan atau langkah penanganan dini dapat dilakukan di tingkat desa.
Misalnya identifikasi apabila ada retakan tanah, kerja sama antar desa di bagian hulu dan hilir terkait dengan curah hujan yang terjadi, atau pun penentuan tempat evakuasi sementara.
Baca juga:
BMKG Prediksi Banjir Pesisir Terjadi di Lima Pulau NTT
Pendulangan Emas Ilegal di Jayapura Dituding Picu Banjir
Tanggul Citarum di Kabupaten Bekasi Jebol, 3 Rumah Rusak
DPR Dorong Pemerintah Berkomunikasi dengan Malaysia soal Banjir di Perbatasan Kaltara
9 Desa Terdampak Banjir di Kabupaten Aceh Jaya