Puisi Firli Bahuri Singgung Kedamaian Rusak karena Korupsi
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengajak masyarakat untuk mencintai bangsa dengan melawan korupsi.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengajak masyarakat untuk mencintai bangsa dengan melawan korupsi. Ajakan ini disampaikan Firli melalui sebuah KPK.
"Sungguh indahnya kedamaian dan kebhinekaan di negeri ini. Tetapi suasana ini bisa hilang seketika ketika nafsu dibakar dengan niat memperkaya diri dan korupsi terus bersemi," kata Firli dalam keterangannya, Minggu (1/3).
Firli menyampaikan puisi yang ditulisnya pada malam Apresiasi Puisi 'Seni vs Korupsi', yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Sabtu (29/2) malam.
Menurutnya, seni dan sastra termasuk puisi dapat menjadi salah satu sarana membangkitkan kesadaran anti-korupsi. "Tujuannya lebih dari ekspresi seni. Tapi penegasan bahwa segala saluran harus digunakan untuk membangun budaya anti-korupsi," ujar Firli.
Ia juga mengaku tidak khawatir apabila aksi baca puisinya dikritik.
"Mungkin akan ada yang mencibir. Kenapa Ketua KPK bukannya berburu koruptor, tapi malah berpuisi. Patut dicatat, tugas KPK bukan cuma berburu koruptor. Tapi mengajak masyarakat dengan menggunakan sarana apapun untuk melawan korupsi mulai dari diri sendiri," jelasnya.
Tak hanya membacakan puisi, Firli juga mengingatkan tamu yang hadir untuk melaporkan kepada KPK apabila memiliki informasi keberadaan tujuh buronan, termasuk Nurhadi dan Harun Masiku.
Selain Firli, sejumlah pejabat juga hadir dan ikut membacakan puisi, antar lain: Jaksa Agung ST Burhanuddin, Wadir Tipikor Bareskrim Mabes Polri dan Ketua BPK Agung Firman Sampurna.
Baca juga:
Firli Bahuri Janjikan Tangkap Koruptor Masuk DPO, Termasuk Sjamsul Nursalim
Apa Kabar Harun Masiku, Begitu 'Sakti' Hingga Kini Belum Ditemukan
Ketua KPK Sebut 36 Kasus Dihentikan Bisa Dibuka Kembali Jika Ada Bukti Baru
Ketua KPK Sebut Penyelidikan 36 Kasus Korupsi Dihentikan Sesuai Ketentuan Hukum
Fakta-Fakta Penghentian Kasus juga Dilakukan KPK di Era Agus Rahardjo dan Sebelumnya
Ketua KPK: Kami Mulai Sebuah Tradisi Transparansi