PSK penuh tato di tangan diciduk Satpol PP Denpasar
Total ada 33 PSK yang terjaring.
Sudah tidak terhitung berulang kali Satpol PP melakukan penertiban sarang prostitusi di kawasan Sanur, Denpasar Selatan. Meski sering ditertibkan, tak membuat Pekerja Seks Komersial (PSK) menjadi kapok.
Bahkan, lebih miris lagi di wilayah Jalan Dano Tempe tempat para pengungsi Gunung Agung ditempatkan di daerah kawasan lokalisasi pelacuran.
Kali ini, Satpol PP Kota Denpasar menyisir sejumlah PSK Bungalow di kawasan Sanur, Rabu (15/11). Sedikitnya, ada 33 PSK dengan tarif Rp 200-350 ribu untuk sekali kencan yang berhasil digiring ke kantor Pamong Praja Denpasar.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Denpasar, Dewa Anom Sayoga mengatakan penggerebekan dilakukan usai menindaklanjuti instruksi dari Walikota Denpasar terkait dengan larangan perbuatan Asusila dan Praktek Prostitusi di Kota Denpasar.
Dikatakan dia, saat penggerebekan tim gabungan melibatkan unsur TNI, Polri, Pecalang Kota Denpasar, dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar.
Ada tiga titik lokalisasi di kawasan Sanur yang berhasil disisir. Adapun tiga lokalisasi tersebut yakni Hotel Barokah, Kawasan Tirta Ening 05 X Sanur dan Tirta Ening 14.
"Kami dalam melakukan tindakan ini mengacu pada Perda Nomor 7 tahun 1993 tentang pemberantasan pelacuran, dan Perda Nomor 1 tahun 2015 tentang Ketertiban Umum," jelas Sayoga, Rabu (15/11).
Menurut dia, makin menjamurnya PSK di Kota Denpasar lantaran pasca ditutupnya lokalisasi besar di beberapa kota di Indonesia.
"Razia akan terus dilakukan untuk menekan merebaknya aktivitas penyakit masyarakat. Ini juga sebagai langkah antisipasi dan memberi efek jera kepada para PSK," imbuhnya.
Kata dia, begitu dilakukan penyidikan, maka pada Jumat (17/11) akan dilaksanakan tindak pidana ringan (tipiring) di Pengadilan Negeri Denpasar.
"Sebanyak 33 PSK yang kami amankan langsung dibawa ke kantor untuk dilakukan langkah penyidikan dan pembinaan. Selanjutnya akan dilaksanakan langkah tipiring sesuai dengan pelanggaran perda yang ada," terangnya.
Rata-rata 33 PSK itu berumur 17 tahun hingga 24 tahun dan berasal dari berbagai daerah dari luar Bali didominasi asal Jawa timur dan Jawa Barat.
Mereka datang ke Bali dengan berbagai alasan, ada yang mengaku karena kebutuhan ekonomi bahkan ada juga yang mengaku karena tergiur dengan penghasilan besar.
Salah satu PSK, Putri (19), asal kota kembang Bandung mengaku memilih terjun jadi PSK di Bali karena tuntutan ekonomi guna membantu kehidupan keluarganya di kampung halaman.
Selain itu, kata Putri, ia yang sudah dari kecil tidak bersama orangtuanya karena bercerai memilih jalan sendiri untuk mendapatkan uang.
"Dulunya saya bekerja di toko di Bandung tidak mendapatkan penghasilan sebesar sekarang. Penghasilan waktu kerja di toko perbulannya hanya Rp 1,2 juta, kalau di sini bisa sampai Rp 7 juta," jelasnya.
Diakuinya, saat bekerja menjadi PSK bisa melayani 3 sampai 4 pria dalam satu hari terhitung dari pukul 16.00 WITA hingga 04.00 WITA.
Sekali kencan, kata Putri, tarifnya berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Namun dari tarif tersebut tidak semuanya masuk ke kantong pribadi melainkan harus dipotong untuk sewa bungalow dan menyogok aparat.
"Kalau tiap kencan untuk Rp 200 ribu, saya hanya dapat jatah Rp 80 ribu, soalnya dipotong untuk sewa bungalow Rp 50 ribu, Mami Rp 50 ribu dan bayar uang keamanan Rp 20 ribu. Itu untuk setiap dapat tamu," beber wanita yang penuh dengan tato di tangannya ini.
Baca juga:
Ratusan miras, PSK hingga pasangan kumpul kebo diamankan Polda Malut
Dijadikan prostitusi terselubung, rumah di Indramayu digerebek
Menengok lapak Kanal Banjir Barat yang terancam digusur Sandiaga
Tak cuma Alexis, MUI minta Anies tutup semua bisnis prostitusi di Jakarta
Anies enggan beberkan ke publik soal bukti prostitusi di Alexis
Polisi ancam warga & ojek yang sekongkol dengan PSK di Jayawijaya